5 Tips Ampuh Merancang Kontrak Bisnis Berkualitas untuk Pekerja Kreatif
Berita

5 Tips Ampuh Merancang Kontrak Bisnis Berkualitas untuk Pekerja Kreatif

Poin penting yang tidak boleh luput dipahami oleh para pihak yang merumuskan kontrak adalah membedakan mana perikatan yang sifatnya hanya ‘kesepahaman’ dan mana perikatan yang sifatnya ‘perjanjian’, mengingat antara keduanya memiliki konsekuensi hukum yang berbeda.

Oleh:
Hamalatul Qur'ani
Bacaan 2 Menit

 

“Tapi kalau mau aman, gunakan usia 21 tahun sebagai batasan untuk menentukan pihak dalam berkontrak dengan sang artis,” ujar Ery.

 

Pasal 330

Bila peraturan-peraturan menggunakan istilah ‘belum dewasa’, maka sejauh mengenai penduduk Indonesia, dengan istilah ini dimaksudkan semua orang yang belum genap 21 tahun dan yang sebelumnya tidak pernah kawin.

 

Selanjutnya juga harus dipahami, kata Ery, jika berurusan dengan badan hukum, siapa yang bisa represent dalam pembuatan kontrak, karena setiap badan hukum itu hanya orang tertentu yang diperbolehkan untuk melakukan tindakan keluar. Untuk PT misalnya, seperti direksi atau orang yang diberi kuasa oleh direksi, untuk yayasan seperti ketua yayasan.

 

  1. Kenali dan Lindungi Risiko

Buatlah daftar risiko yang mungkin timbul selengkap mungkin, kenali secara menyeluruh dan buat perlindungan yang diperlukan. Misalnya dalam kasus perjanjian pengangkutan barang, kalkulasi segala resiko yang mungkin akan muncul secara mendetail.

 

“Mulai dari pengantaran pada titik A hingga ke titik B, kemungkinan mobil barang mengalami ban bocor, barang pecah atau rusak, terjadi bencana alam di tengah perjalanan dan seterusnya, lalu tuangkan bentuk perlindungan diri kita atas resiko tersebut dalam kontrak,” jabar Ery.

 

Selanjutnya, sambung Ery, pertimbangkan proporsionalitas, mana yang akan dilindungi dalam kontrak tersebut. ini akan sangat berguna saat terjadi hal yang tidak terduga nantinya. Soal kalkulasi risiko tersebut, kata Ery, memang akan sangat mudah jika dilakukan oleh orang yang memang bekerja di bidang itu.

 

  1. Pastikan Jelas ‘Siapa’ Melakukan ‘Apa’

Tips ketiga ini berkaitan erat dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, ujar Ery. Menurutnya, akhir-akhir ini memang tren perancangan kontrak semakin membingungkan, semakin rumit, semakin bahasanya berputar-putar dan semakin tidak mudah dipahami akan dianggap semakin ‘keren’. Padahal kontrak yang dibuat dengan bahasa yang tidak mudah dipahami dapat mudah mengaburkan kejelasan soal siapa melakukan apa.

Tags:

Berita Terkait