Industri media nasional saat ini tengah berada pada fase paling menantang dalam sejarahnya. Disrupsi teknologi dan perubahan pola konsumsi informasi secara signifikan telah menggeser belanja iklan, yang berdampak langsung pada keberlanjutan perusahaan pers di berbagai platform.
Dalam satu tahun terakhir, gelombang efisiensi besar-besaran terjadi hampir di seluruh sektor media. Mulai dari media cetak, radio, media daring, hingga televisi swasta dan lokal. Jika sebelumnya iklan menjadi tulang punggung utama bisnis media, kini porsinya merosot.
Belanja iklan termasuk dari pemerintah, beralih ke influencer dan berbagai platform digital berbasis algoritma. Meski demikian, peran pers tetap dinilai krusial. Media masih dibutuhkan untuk menjaga ruang publik, menyediakan informasi yang berkualitas dan bertanggung jawab, sekaligus menjadi benteng dalam menangkal disinformasi.
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (KPM Kemkomdigi), Fifi Aleyda Yahya menegaskan bahwa masa depan pers tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Keberlanjutan bisnis, dinamika industri periklanan, dan integritas jurnalistik merupakan satu kesatuan yang saling terkait.
“Di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat, tekanan ekonomi yang tidak ringan, dan ekspektasi publik yang terus meningkat, pers Indonesia tetap berdiri dan menjalankan perannya,” ujar Fifi dalam Media Outlook 2026: Memandang Masa Depan Media: Sinergi Bisnis, Tren Periklanan, dan Integritas di Era Hiper-Konektivitas, Kamis (5/2/2026).
Baca juga:
- Media Tetap Menarik bagi Investor di Tengah Arus Digital Berbasis AI, Asal Ada Inovasi
- Jurnalisme Berkualitas Kian Penting di Tengah Gempuran AI dan Platform Digital
Ia menggambarkan ekosistem informasi hari ini bergerak dalam hitungan detik, dengan algoritma menentukan apa yang dilihat publik. Dalam kondisi tersebut, kecakapan sering kali lebih dihargai dibandingkan ketepatan, dan viralitas kerap mengalahkan verifikasi.
















