Kariernya berlanjut pada tahun 2008 ketika ia diangkat sebagai hakim tinggi di Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Medan. Tidak lama kemudian, pada 2009, ia kembali ke Jakarta dan bertugas di PTA Jakarta sebagai hakim tinggi yang diperbantukan di Badan Pengawasan Mahkamah Agung (Bawas).
Kiprah Abdul Manaf di Bawas semakin berkembang. Pada 2012, ia dipercaya menjadi pejabat eselon II sebagai Inspektur Wilayah IV Bawas, yang membawahi wilayah NTB, NTT, Maluku, dan Papua. Setahun setelah itu, ia dirotasi menjadi Inspektur Wilayah III, yang meliputi Kalimantan dan Sulawesi.
Tonggak penting dalam kariernya terjadi pada tahun 2015, saat ia dilantik sebagai Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama (Dirjen Badilag). Ia menjadi Dirjen ketiga, setelah Wahyu Widiana dan Purwosusilo. Tiga tahun kemudian, pada 2018, ia ditunjuk menjadi Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Surabaya.
Tidak lama berselang, setelah melalui proses uji kelayakan dan kepatutan sebagai calon hakim agung di DPR, Abdul Manaf akhirnya dilantik secara resmi sebagai hakim agung pada 15 Agustus 2018.
Dilansir dari Dandapala, sebagai bentuk penghormatan terakhir, Ketua Mahkamah Agung, Prof. Sunarto, datang langsung ke rumah duka yang beralamat di Bojongsari, Depok, Jawa Barat. Diketahui, Prof. Sunarto tiba sekitar pukul 08.00 WIB pagi ini untuk menyampaikan belasungkawa.
Sementara itu, Kepala Biro Hukum Mahkamah Agung, Sobandi, menjelaskan bahwa jenazah almarhum akan terlebih dahulu disemayamkan di Gedung MA dan akan dishalatkan di Masjid Mahkamah Agung.
“Jam 9 sampai 9.30 jenazah diberangkatkan dari Depok. Insya Allah jam 11 sudah disemayamkan di Mahkamah Agung, lalu dishalatkan di masjid,” ujar Sobandi kepada Hukumonline, Rabu (21/5).
















