Di tengah ketidakpastian global, kata dia, pertumbuhan saja tidak cukup, sehingga memerlukan ketahanan yang berkelanjutan atau resilience, serta pemerataan kesejahteraan atau shared prosperity, agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Menurutnya, IES 2026 akan dirancang menjadi ajang strategis yang menyatukan akademisi, pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, pemerintah, serta mitra internasional. Tujuannya untuk menyelaraskan prioritas pembangunan ekonomi Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, IES 2026 akan menghadirkan empat agenda besar, yakni Top Leadership Session, yang mengundang pakar dan pemikir global berbagi pengalaman dan praktik terbaik dari negara lain. Policy Dialogue, mempertemukan pemerintah dan pelaku bisnis untuk mendorong reformasi kebijakan. Roundtables, membahas isu tematik dan peluang kerja sama bilateral. Serta IBC in Actions, menampilkan inisiatif dan komitmen nyata dari anggota IBC.
Adapun program “IBC in Action” hadir sebagai bentuk nyata dari hasil studi IBC, termasuk pengelolaan sampah, peningkatan kesejahteraan pekerja migran, dan berbagai inisiatif pembangunan strategis lainnya. Inisiatif ini menegaskan peran aktif sektor swasta dalam mendukung pembangunan nasional, bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan solusi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak nyata.
Selain itu, Arsjad juga menyinggung dinamika global yang mempengaruhi perekonomian nasional, mulai dari ketegangan geopolitik, disrupsi teknologi, hingga perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Menurut dia, kondisi global yang penuh ketidakpastian inilah yang mendorong IBC melahirkan IES, agar dapat memetakan arah pembangunan ekonomi ke depan.
“Dengan semua inisiatif ini, kami berharap IES 2026 dapat menjadi sebuah platform kredibel bagi pemerintah dan dunia usaha untuk merumuskan agenda strategis, menciptakan solusi konkret, membangun ekosistem berkelanjutan, dan memperkuat fondasi ekonomi nasional agar Indonesia mampu bersaing secara efektif di tingkat regional maupun global melalui mekanisme monitoring dan knowledge sharing yang terjadi,” tutup Arsjad.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO), IBC, Sofyan Djalil, menambahkan kekuatan IES 2026 terletak pada integrasi pemikiran dan aksi nyata. Setiap sesi dirancang untuk menghasilkan solusi implementatif melalui task force lintas sektor, penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), dan project matchmaking.
















