Memahami berkarier di bidang hukum, terutama corporate law firm adalah sebuah maraton, bukan sprint. Mempertahankan karier hukum yang sukses dan memuaskan menyadarkannya akan pentingnya memprioritaskan kesehatan, dan itu berarti membuat waktu untuk berolahraga. Demikian pandangan Iyolla Sugiarto, seorang associate di Santoso, Martinus & Muliawan Advocates (SMMA)
“Dengan tuntutan pekerjaan yang penuh tekanan, konsistensi, komitmen untuk terus belajar agar kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki tetap relevan, menjaga daya tahan tubuh dan kognitif adalah kunci untuk memastikan bahwa pekerjaan yang ia lakukan memiliki dampak yang besar bagi dirinya, kantornya di Santoso, Martinus & Muliawan Advocates (SMMA), teman dan keluarga, dan kliennya,” ujar Iyolla.
Pekerjaan pun semakin banyak dilakukan dengan duduk, sebagaimana dampak pandemi Covid-19 yang menyadarkan dunia bahwa pekerjaan dapat dilakukan dalam jarak jauh atau virtual, mengurangi jumlah gerakan yang biasanya dilakukan seorang pengacara setiap harinya. Hal-hal yang dulunya membutuhkan perjalanan ke kantor, pengadilan, gedung pemerintahan, atau lokasi klien kini hampir seluruhnya dilakukan sambil duduk.
Baginya, berolahraga sangat penting untuk kemampuannya dalam berkinerja optimal. Iyolla selalu membuat waktu untuk berolahraga, sebelum masuk ke kantor di pagi hari atau pergi ke gym pada malam hari selesainya mengumpulkan deliverables. Ia selalu merasa lebih segar setelah berolahraga—dari bulu tangkis, berlari, yoga, hingga pilates. Jika ditanya apa saja olahraganya, Iyolla menjawab, ”You name it, I probably have done it!”
Alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia mengungkapkan pengalamannya ini sejalan dengan temuan ilmiah yang menunjukkan bahwa olahraga secara signifikan mendukung peningkatan fungsi eksekutif, termasuk perhatian, memori kerja, dan menjaga neuroplastisitas. Semua aspek kognitif sangat penting untuk memiliki kemampuan analitik dan problem solving. Di tengah berkembangnya penggunaan AI dan algoritma dalam praktik hukum, Iyolla melihat keunggulan manusia tidak lagi hanya terletak pada kemampuan analitik semata, tetapi juga pada kreativitas dan kemampuan berpikir non-linear.
“Iyolla adalah associate pekerja keras yang tidak gentar untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang kompleks. Iyolla mampu bekerja secara mandiri dan memiliki inisiatif yang tinggi,” ujar Managing Partner Santoso, Martinus & Muliawan Advocates, Wincen Santoso.
Sebagai seorang keturunan Tiongkok, gaya hidup ini sejalan dengan peribahasa Tiongkok di keluarganya, yaitu 滴水穿石 (dī shuǐ chuān shí), yang artinya ”tetesan air yang terus-menerus pada akhirnya mampu melubangi batu”. Kata-kata mutiara ini sejalan dengan persepsi bahwa lawyering adalah maraton, bukan sprint—dan olahraga adalah “滴水” karena ia adalah kebiasaan kecil yang jika dilakukan konsisten, pelan-pelan membentuk daya tahan fisik dan mental yang Iyolla butuhkan untuk bertahan dan unggul dalam profesi ini.
















