Karena Bahasa Hukum adalah Bahasa, Bukan Hukum
OPINI

Karena Bahasa Hukum adalah Bahasa, Bukan Hukum

Bahasa hukum bukan tujuan dari hukum itu sendiri. Bahasa hukum tetaplah bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.

•Bacaan 6 Menit
YI
Penulis Opini

Mengutamakan pembaca dalam menulis juga berarti memahami kebutuhan, minat, dan masalah mereka. Sebelum mulai menulis, penting untuk melakukan riset tentang siapa target kita, apa yang mereka cari, dan bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan pesan kepada mereka. Dengan menempatkan diri dalam posisi pembaca, kita dapat menulis dengan cara yang lebih empatik dan efektif.

Selain itu, menulis untuk pembaca membantu kita menghindari jebakan menulis dengan gaya yang berlebihan atau terlalu teknis hanya untuk mengesankan editor. Tulisan yang terlalu rumit atau tidak relevan dengan kebutuhan pembaca tentu akan kehilangan manfaatnya.

Menulis untuk Berpikir, bukan Sebaliknya

Bagaimana memulai suatu tulisan adalah hal yang juga menarik perhatian. Dalam pekerjaan, terkadang saya terjebak dalam usaha mengejar kesempurnaan jawaban atas persoalan. Demikian pula proses penulisan, kita bisa terpaku jika memikirkan apa yang mau ditulis, bukan mulai menulis apa yang kita pikirkan. Menyempurnakan ide sebelum menulis seperti mencoba melukis di atas cairan. Selama permukaan masih cair, lukisan tidak akan pernah terselesaikan.

Kita justru dapat mengeksplorasi berbagai sudut pandang ketika mulai menulis, mengevaluasi argumen yang berbeda, dan menyempurnakan pemikiran yang ada. Bukan hanya membantu memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan, tetapi sekaligus memperdalam pengetahuan dan memperluas wawasan. Menulis juga membantu mengembangkan ide dan memproses informasi, termasuk menemukan hubungan dan wawasan baru yang sebelumnya tidak kita sadari. Menulis memaksa kita untuk menyusun pikiran secara logis dan terstruktur, sekaligus memperdalam pemahaman tentang topik yang sedang dibahas. Kita dapat belajar mengomunikasikan ide-ide tersebut dengan lebih jelas dan efektif kepada orang lain dengan menulis.

Dengan demikian, menulis bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga tentang mengeksplorasi dan memahami informasi itu sendiri. Gagasan abstrak dapat terbentuk menjadi konsep yang lebih konkret untuk dipahami, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain, melalui tulisan.

AI untuk Efisiensi, bukan Mendikte Narasi

Pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) dalam tulisan juga turut menjadi pertanyaan diskusi. Teknologi AI seperti Chat GPT memang dapat membantu penulisan artikel hukum populer dalam banyak cara mulai dari riset hingga penyuntingan. AI dapat menganalisis data dalam jumlah besar dan menyajikan informasi yang relevan dengan cepat. AI juga dapat membantu memecah satu kalimat dalam teks hukum yang panjang menjadi beberapa kalimat sederhana. Bisa juga untuk menyederhanakan satu paragraf yang kompleks dan penuh pengulangan kata menjadi satu kalimat sederhana. Hal ini akan membantu seorang penulis menghemat waktu dan tenaga dalam menemukan referensi yang sesuai, menyusun kutipan, bahkan menyarankan struktur penulisan.

Namun demikian, AI tetap memiliki keterbatasan. AI tidak mampu merasakan emosi dan tidak memiliki pengalaman pribadi yang kerap menjadi esensi atau kekuatan sebuah tulisan. Tulisan yang menggugah pembaca akan lahir dari intuisi, empati, dan perasaan penulisnya alih-alih dari kecerdasan buatan. Kepekaan dan kreativitas penulis tetap diperlukan untuk menghasilkan tulisan yang menarik dan bermakna.

bahasa
Yosea Iskandar

Praktisi Hukum Perbankan

Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info