Sebagai seorang ibu, seni berkompromi ia temukan dalam perbedaan karakter anak-anaknya. Memiliki satu anak laki-laki dan dua perempuan, mudah baginya untuk menentukan keinginan anak perempuannya karena minat mereka sering serupa. Namun, anak laki-lakinya pun tetap mendapat perhatian yang sama. Siasat yang ia lakukan adalah mengajak anak-anak berdiskusi tentang kompromi.
“Hari ini kita mau ikutin siapa dulu? Kalau hari kita ikutin Abang, minggu depan baru kita ikutin cewek-cewek ya.”
Ia percaya, kebutuhan anak-anak tak selalu rumit. Namun yang terpenting, semua anaknya cukup mendapat perhatian dan kasih sayang, serta senantiasa dilibatkan dalam setiap diskusi.
Corporate Legal Manager PT REA KALTIM PLANTATIONS, Milu Riana.
Seiring waktu, perbedaan zaman pada akhirnya cukup membuat pergolakan perbedaan asuh orang tua kepada anaknya. Di sini Milu menyadari bahwa pola asuh dari orang tuanya dulu tak selalu cocok untuk anak-anaknya sekarang. Ia melihat anak-anak masa kini lebih vokal, berani berpendapat, dan punya cara berpikir sendiri. Di situlah ia memaknai peran ibu sebagai seni yang terus berkembang, proses belajar yang tak pernah usai.
Milu melihat bahwa perlu adanya warisan yang ia harus tanamkan kepada anaknya. “Kalau kalian jujur dan mau bekerja keras, kalian bisa hidup.” Di atas segalanya, hal ini baginya merupakan warisan terpenting untuk anak-anaknya. Ia yakin, dengan integritas dan etos kerja, anak-anaknya akan mampu bertahan dan menjalani hidup dengan baik, meski tanpa kehadiran orang tua di sisi mereka.
Dalam menjalani semua peran ini, dukungan suami sebagai support system menjadi fondasi penting dalam perjalanannya. Sejak awal pernikahan, komunikasi dan pembagian peran menjadi kesepakatan bersama agar masing-masing tetap bisa berkembang, baik sebagai individu maupun sebagai orang tua. Terlebih, ia kerap kali melakukan perjalanan dinas yang mengharuskan ia meninggalkan anak-anaknya di rumah sementara.
Harapan terbesar Milu sebenarnya sederhana. Ia ingin menjadi sosok ibu yang selalu dirindukan anak-anaknya, kehadiran yang tak tergantikan meski mereka tumbuh dewasa. Ia ingin anak-anaknya bangga memiliki ibu yang berjuang, sekaligus merasa dicintai dan diperhatikan. Baginya, kebahagiaan keluarga adalah tujuan utama. Ketika anak-anak dan suami bahagia, di situlah ia menemukan makna dari seluruh perjalanannya.
Di balik tumpukan berkas legal dan rapat perusahaan, ada seorang ibu yang tak henti menenun warisan kasih, kejujuran, dan kerja keras untuk anak-anaknya. Inilah seni keibuan yang sesungguhnya.
















