Hubungan antara Iran dan Israel mengalami peningkatan ketegangan yang kini memasuki fase baru yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Ketegangan tersebut mencapai puncaknya pada tanggal 13 Juni 2025, ketika Israel secara tiba-tiba melancarkan serangan militer terhadap sejumlah infrastruktur strategis dan fasilitas penting yang berada di wilayah Iran. Serangan ini menandai eskalasi konflik yang lebih serius dan berpotensi memicu dampak lebih luas di kawasan Timur Tengah maupun pada stabilitas global.
Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada, Muhadi Sugiono menilai bahwa konflik ini tidak hanya mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengubah konfigurasi kekuatan global.
Dinamika yang terjadi, kata dia, mencerminkan betapa rentannya sistem internasional ketika berhadapan dengan konflik berkepanjangan yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar dunia.
Baca Juga:
- Trump Sebut Iran-Israel Sepakat Gencatan Senjata, Ahli Duga AS Mundur karena Tekanan Ekonomi Global
- Ancaman Penutupan Selat Hormuz, Pemerintah Cari Opsi Pasokan Energi
- Mahkamah Internasional: Pendudukan Israel Langgar Hak Fundamental Rakyat Palestina
Muhadi mengingatkan bahwa dampak konflik ini juga dirasakan oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia. Sebagai negara dengan ekonomi terbuka, Indonesia berisiko terdampak secara langsung jika rantai pasokan energi global terganggu akibat perang.
“Lonjakan harga minyak, gangguan logistik, dan potensi inflasi domestik adalah risiko nyata yang harus diantisipasi pemerintah,” ujarnya dilansir dari keterangan resminya, Selasa (24/6).
Di sisi politik luar negeri, Indonesia menghadapi tantangan yang tak kalah berat. Posisi Indonesia sebagai negara dengan prinsip bebas aktif membuatnya berada dalam dilema, terutama ketika harus menjaga hubungan bilateral dengan negara-negara besar sembari tetap konsisten dalam membela Palestina dan mendukung perdamaian dunia.
















