Sementara Victoria menambahkan, jika persiapan menuju INTERNATION sejatinya tidak mudah, mengingat mereka harus menghabiskan waktu malam mereka untuk berdiskusi dan berlatih.
“Saya belajar banyak tentang ketelitian, keberanian menyampaikan pendapat, dan pentingnya kerja sama tim. Ini adalah pencapaian yang tidak akan saya lupakan sepanjang masa studi saya di FH UPH,” ujarnya.
Celine pun merasakan ketegangan selama melaksanakan rangkaian kompetisi. Di mana ia perlu menyusun strategi sekaligus membaca situasi ruang persidangan. Pengalaman tersebut menjadi pemacu dan memantapkan keinginannya untuk aktif di dunia moot court ke depannya.
Menemani Celine menjadi observer, Caitlyn menuturkan menjadi observer pada ajang INTERNATION memberikan perspektif baru tentang bagaimana sebuah tim hukum bertarung di level nasional. Ia melihat soal bagaimana ketekunan dan komunikasi yang baik menjadi kunci keberhasilan.
“Saya sangat berterima kasih kepada seluruh tim dan pelatih yang telah menciptakan lingkungan belajar yang luar biasa,” katanya.
Keberhasilan Tim FH UPH tidak lepas dari bimbingan dosen dan pelatih, Jessica Los Banos, Anjarico Marlienardo, dan Valerie Elaine Tamzil, yang mendampingi tim sejak tahap persiapan. Dukungan komunitas International Law Moot Court Community (ILMCC) UPH juga berperan penting dalam menjaga regenerasi talenta hukum internasional di FH UPH.
Capaian ini semakin memperkuat kiprah FH UPH dalam melahirkan mahasiswa berprestasi di kompetisi hukum nasional dan internasional. Lebih dari sekadar trofi, prestasi tersebut menunjukkan keberlanjutan sistem pembinaan FH UPH dalam mencetak mooter baru yang siap berkompetisi di tingkat global.
















