Memahami Zakat Profesi
Edsus Lebaran 2019

Memahami Zakat Profesi

Menurut Fatwa MUI, zakat penghasilan (profesi) yang wajib dizakati adalah penghasilan bersih (netto) jika sudah mencapai nishab senilai (minimal) harga emas 85 gram dalam satu tahun (haul) dan kadar zakat penghasilan yang dikeluarkan sebesar 2,5 persen.

Agus Sahbani
Bacaan 8 Menit
Lembaga Amil Zakat Masjid Istiqlal Jakarta siap menerima dan menyalurkan zakat termasuk infaq dan shodaqah. Foto Ilustrasi: RES
Lembaga Amil Zakat Masjid Istiqlal Jakarta siap menerima dan menyalurkan zakat termasuk infaq dan shodaqah. Foto Ilustrasi: RES

Setiap jelang lebaran, umat Islam selalu diingatkan pada kewajiban membayar zakat baik zakat fitrah (jiwa) maupun zakat mal (harta) sebagai bentuk ibadah menjalankan salah satu rukun Islam. Selama ini potensi zakat di Indonesia sangat besar dari sisi pemberdayaan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat jika dikelola secara lebih produktif dan tepat sasaran. Urusan zakat ini sudah diserap dalam hukum nasional melalui berlakunya UU No. 38 Tahun 1999 dan diubah dengan UU No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat yang lebih banyak mengatur seputar kelembagaan amil zakat (Baznas dan LAZ).       

Sesuai UU Pengelolaan Zakat itu, zakat didefinisikan sebagai harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim/muslimah atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya (mustahiq) sesuai syariat Islam. UU Pengelolaan Zakat tidak mengatur siapa saja yang masuk kategori mustahiq dan muzakki (pembayar zakat) termasuk syarat nishab (batas minimal harta terkena wajib zakat) dan kadar zakat yang harus dikeluarkan.   

Baca Juga:

Mengutip QS At-Taubah (9): 103 disebutkan "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat tersebut engkau membersihkan dan mensucikan mereka."  Dalam QS At-Taubah (9): 60, ada 8 golongan (asnaf) yang masuk kategori mustahiq yang berhak menerima zakat:

  1. Fakir (orang yang tidak memiliki harta).
  2. Miskin (orang yang penghasilannya tidak mencukupi).
  3. Riqab (hamba sahaya atau budak).
  4. Gharim (orang yang memiliki banyak utang).
  5. Mualaf (orang yang baru masuk Islam).
  6. Fisabilillah (pejuang di jalan Allah).
  7. Ibnu Sabil (musafir dan para pelajar perantauan).
  8. Amil zakat (panitia penerima dan pengelola dana zakat).

Salah satu jenis zakat yang wajib dibayar adalah zakat harta yang pelaksanaannya tidak harus saat jelang Hari Raya Idul Fitri. Kewajiban zakat mal ini berlaku bagi mereka (muzakki) yang telah memiliki kemampuan lebih secara finansial dan memiliki harta yang telah mencapai nishab. Nishab adalah batas minimal harta/pendapatan terkena wajib zakat. Jika kurang dari nilai batas minimal tersebut, tidak wajib berzakat.

Mengutip buku Panduan Zakat Praktis yang diterbitkan Baznas-Dompet Dhuafa (September, 2006), ada 6 syarat atau prinsip kekayaan yang wajib dizakati sesuai fikih zakat (kajian fuqaha). Pertama, hartanya dimiliki/dikuasai secara penuh dan diperoleh secara halal. Kedua, hartanya berkembang yang memberi keuntungan atau pendapatan secara ekonomi. Ketiga, hartanya mencapai nishab jumlah tertentu sesuai ketetapan syariat Islam.  

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info