Seperti real time data pasokan barang, data produksi, hingga data permintaan yang dibutuhkan massyarakat. Begitu pula industri mesti sinkron. Karenanya dibutuhkan koordinasi antar lembaga yang memiliki otoritas. Dia melanjutkan rantai pasok dalam negeri sejatinya menjadi keharusan dibenahi. Seperti dari tingkat produsen, petani, sampai konsumen.
“Permasalahan rantai pasok terutama food commodity, seperti misalnya bahan-bahan pokok, kapan supply lagi tinggi, bisa disimpan di-manage dengan baik, ketika supply lagi sedikit, misal akibat cuaca buruk, bisa diantisipasi,” katanya.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia (Core) Mohammad Faisal berpendapat strategi pemerintah dalam mengendalikan inflasi dengan menjaga rantai pasok menjadi langkah tepat. Baginya faktor pasokan berpengaruh besar dalam kenaikan inflasi dibanding faktor permintaan. Karenanya diperlukan penguatan kolaborasi TPIP dan TPID.
Dia berpandangan strategi pemerintah cukup mampu menahan laju inflasi. Terlihat dalam data per September 2022. Menurutnya, terdapat peningkatan inflasi sebesar 1,17 persen. Tapi, malah terdapat pula penurunan inflasi inti dan deflasi pada kelompok volatile food. Dengan kata lain, pendorong inflasi merupakan dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Dengan demikian, faktor pendorong inflasi murni disebabkan first round efek kenaikan harga BBM bersubsidi. Karena itu, terjadi inflasi di sektor trasnportasi akibat kenaikan BBM bersubsidi. Sementara deflasi pada September pun tak biasa. Sebab, biasanya kenaikan BBM subsidi selaras dengan inflasi harga pangan. Dia pun menengarai dipengaruhi faktor permintaan yang tidak terlalu kuat. Pemerintah pun agar melihat tingkat keefektifan strategi penurunan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
















