Padahal, lanjutnya, Indonesia membutuhkan investasi sektor riil guna memperbaiki kondisi ekonomi Indonesia dari berbagai aspek.
Ekonom PT Bank Nasional Indonesia 1946 Tbk, Ryan Kiryanto pada kesempatan sama meyakini ekonomi Indonesia saat ini sudah 'on the track'. Terlihat dari pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga mencapai 4,2 persen dan diharapkan hingga akhir tahun berada pada kisaran 4,2 persen - 4,3 persen.
Begitu pula dengan angka inflasi sebesar 2,6 persen. Apalagi jika ditambah penguatan nilai tukar pada level Rp9.400-Rp9.500 per dolar Amerika Serikat.
Namun, Hendri berpendapat lain. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi saat ini tidak diiringi pertumbuhan masing-masing sektor. "Banyak sektor seperti manufaktur dan
perdagangan mengalami penurunan," imbuhnya.
Hal itu, tukas Hendri menunjukkan ekonomi Indonesia dalam kondisi rapuh. Apabila ada kekisruhan, pada tahun 2010, ekonomi Indonesia tak tertahan untuk ambruk.
Yanuar berpendapat, hanya pasar finansial di Indonesia yang tidak terlalu berpengaruh akan skandal Bank Century. Pasalnya, bank sentral AS dan Inggris menyiapkan dana cukup besar untuk disebar ke sejumlah pasar keuangan dengan harapan akan ada dana masuk ke masing-masing negara. "Kritis sektor riil Indonesia karena tak cukup dana segar diserap," papar Yanuar.
Dia mengingatkan pemodal sektor riil menanti adanya kepastian berusaha, oleh sebab itu jangan sampai janji Presiden menjamin stabilitas politik dan penegakan hukum tak dipercaya pemodal apabila skandal Bank Century tidak dituntaskan melalui jalur hukum.
















