Koalisi masyarakat sipil mengutuk serangan air keras yang menimpa Wakil Koordinator Kontras, Andrie Yunus. Koordinator Kontras, Dimas Bagus Arya, mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas serangan tersebut. Keseriusan penanganan kasus ini menunjukkan komitmen terhadap perlindungan HAM. Dimas menegaskan intimidasi dan teror yang dialami Andrie tidak menyurutkan langkah Kontras yang dibangun selama 28 tahun terakhir.
“Peristiwa ini bukan lagi pertanda alarm bagi demokrasi di Indonesia, tapi demokrasi sudah masuk dalam jurang,” katanya dalam konferensi pers yang digelar koalisi masyarakat sipil di Jakarta, Jum'at (13/03/2026).
Pada kesempatan yang sama Direktur Eksekutif Amnesty International, Usman Hamid, mengutuk keras serangan air keras yang dialami Andrie Yunus. Serangan ini bukan yang pertama kali dialami Andrie. Tahun lalu, Andrie bersama masyarakat sipil lainnya mendobrak pintu ruang rapat DPR dan pemerintah di hotel karena membahas RUU TNI secara tertutup. Pasca peristiwa itu Andrie dan Kontras mengalami teror melalui telepon, disambangi orang tak dikenal dan tentara.
Baca juga:
- Aktivis Kontras Disiram Air Keras, Aparat Diminta Usut Tuntas
- Perburuan Aktivis Pasca Demo 2025: KontraS Sebut Terbesar Sejak 1998, Picu Alarm HAM
- Pengaturan Anti-SLAPP Perlu Masuk RUU KUHAP untuk Lindungi Pejuang Lingkungan dan HAM
Usman mencatat setahun terakhir Andrie banyak mengulas isu militer, termasuk mengajukan judicial review UU TNI ke Mahkamah Konstitusi (MK). Sehari sebelum serangan ini Andrie melakukan perekaman siniar bertema militer. Tapi kalangan masyarakat sipil tidak terkecoh untuk menuding pihak tertentu sebagai pelakunya. Karena kasus ini harus diinvestigasi secara serius.
“Teror ini muncul di tengah ketegangan konflik elit politik, ini yang harus dicermati,” timpalnya.
Menurut Usman kubu politik yang saling berseteru biasanya menimbulkan korban dan hal ini yang harus ditelusuri. Kontras tidak pernah mundur menghadapi teror, intimidasi dan ancaman. Sejak 1998, 1999 dan seterusnya hampir setiap tahun kantor Kontras diserang, dibom, Bahkan staf Kontras ada yang gugur di Timor Leste, sampai puncaknya pembunuhan terhadap Munir Said Thalib.
“Ini ujian kepolisian dan aparat negara kalau becus mengurus negara buktikan pelakunya bisa ditangkap dalam waktu yang tidak lama,” tegas mantan koordinator Kontras itu.
















