Serangan AS-Israel ke Iran Picu Gelombang Demonstrasi Global dan Perdebatan Hukum
Utama

Serangan AS-Israel ke Iran Picu Gelombang Demonstrasi Global dan Perdebatan Hukum

Aksi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2) terhadap Iran memicu gelombang demonstrasi di berbagai negara, sekaligus memantik perdebatan hukum atas legalitas penggunaan kekuatan militer.

Ferinda K Fachri
Bacaan 3 Menit
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Teheran, Ibu Kota Iran pada 28 Februari lalu. Foto: Tangkapan layar YouTube
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Teheran, Ibu Kota Iran pada 28 Februari lalu. Foto: Tangkapan layar YouTube

Gelombang Protes di Amerika Serikat Sejak awal Maret, AS menghadapi gelombang unjuk rasa anti-perang di sejumlah kota besar. Aksi massa terjadi di kawasan Gedung Putih hingga Times Square, New York. Masyarakat yang turun ke jalan menentang keterlibatan militer AS bersama Israel dalam penyerangan terhadap Iran.

Selain New York, unjuk rasa yang digerakkan oleh berbagai koalisi masyarakat ini berlangsung di Chicago, Los Angeles, Boston, dan Atlanta. Demonstrasi lanjutan juga merambah kota-kota yang lebih kecil seperti Springfield, Chattanooga, Gainesville, dan Albany.

Melansir Antara, penyelenggara demonstrasi mengecam serangan AS yang disebut ilegal karena memicu potensi perang besar yang membawa kehancuran. Para demonstran mendesak masyarakat untuk menolak eskalasi militer dengan terus menyuarakan pendapat melalui aksi jalanan.

Baca juga:

Kalangan dari American Civil Liberties Union bersama sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat turut mendesak Kongres untuk segera menghentikan aksi militer tersebut. Secara konstitusional, penggunaan kekuatan militer seperti operasi di Iran seharusnya memerlukan persetujuan legislatif.

Posisi Washington dan Teheran Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Senin (2/3) mengklaim bahwa serangan tersebut bertujuan memastikan Iran tidak memiliki senjata yang mengancam AS maupun sekutu di Timur Tengah, terutama rudal balistik. Rubio menyatakan pemerintahan Trump optimis misi ini dapat berjalan tanpa pengerahan pasukan darat, dengan fokus menghancurkan fasilitas rudal, manufaktur drone, dan Angkatan Laut Iran.

“Kami tentu ingin melihat rezim ini digantikan. Seperti yang disampaikan Presiden Donald Trump, ia ingin rakyat Iran memanfaatkan momentum ini untuk bangkit. Tujuan kami adalah memastikan mereka tidak memiliki senjata yang mengancam kami,” ujar Rubio.

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info