Gelombang Protes di Amerika Serikat Sejak awal Maret, AS menghadapi gelombang unjuk rasa anti-perang di sejumlah kota besar. Aksi massa terjadi di kawasan Gedung Putih hingga Times Square, New York. Masyarakat yang turun ke jalan menentang keterlibatan militer AS bersama Israel dalam penyerangan terhadap Iran.
Selain New York, unjuk rasa yang digerakkan oleh berbagai koalisi masyarakat ini berlangsung di Chicago, Los Angeles, Boston, dan Atlanta. Demonstrasi lanjutan juga merambah kota-kota yang lebih kecil seperti Springfield, Chattanooga, Gainesville, dan Albany.
Melansir Antara, penyelenggara demonstrasi mengecam serangan AS yang disebut ilegal karena memicu potensi perang besar yang membawa kehancuran. Para demonstran mendesak masyarakat untuk menolak eskalasi militer dengan terus menyuarakan pendapat melalui aksi jalanan.
Baca juga:
- Imbas Serangan AS-Israel ke Iran, Pakar: Indonesia Perlu Menimbang Kembali Kepesertaannya di BoP
- Pemicu Serangan AS-Israel ke Iran: Ancaman Nuklir dan Politik Regional
Kalangan dari American Civil Liberties Union bersama sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat turut mendesak Kongres untuk segera menghentikan aksi militer tersebut. Secara konstitusional, penggunaan kekuatan militer seperti operasi di Iran seharusnya memerlukan persetujuan legislatif.
Posisi Washington dan Teheran Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Senin (2/3) mengklaim bahwa serangan tersebut bertujuan memastikan Iran tidak memiliki senjata yang mengancam AS maupun sekutu di Timur Tengah, terutama rudal balistik. Rubio menyatakan pemerintahan Trump optimis misi ini dapat berjalan tanpa pengerahan pasukan darat, dengan fokus menghancurkan fasilitas rudal, manufaktur drone, dan Angkatan Laut Iran.
“Kami tentu ingin melihat rezim ini digantikan. Seperti yang disampaikan Presiden Donald Trump, ia ingin rakyat Iran memanfaatkan momentum ini untuk bangkit. Tujuan kami adalah memastikan mereka tidak memiliki senjata yang mengancam kami,” ujar Rubio.
















