Suara yang Terlupakan, Francesca Albanese Mengingatkan Kembali Realita di Gaza
Mengadili Israel

Suara yang Terlupakan, Francesca Albanese Mengingatkan Kembali Realita di Gaza

Perang di Gaza, genosida dalam konteks kolonialisme pemukim.

CR 34
Bacaan 3 Menit
 Pelapor Khusus PBB untuk wilayah pendudukan Palestina, Francesca Albanese saat mengisi materi dalam sebuah acara yang digelar Erasmus University Rotterdam, Belanda. Foto: Istimewa
Pelapor Khusus PBB untuk wilayah pendudukan Palestina, Francesca Albanese saat mengisi materi dalam sebuah acara yang digelar Erasmus University Rotterdam, Belanda. Foto: Istimewa

Perang yang terjadi di Gaza, Palestina telah berlangsung sejak 1948 silam  telah menyita perhatian Masyarakat Internasional. Di tengah kondisi gencatan senjata, warga Palestina tetap tidak bisa bernapas lega. Apalagi Presiden Amerika Serikat yang baru saja dilantik, Donald Trump hendak mengambil alih Gaza dan merelokasi para penduduk.

Dilansir dari Reuters, alasan Trump ingin mengambil alih Gaza karena ia berkomitmen untuk membangun lokasi tersebut. Serta ingin menyerahkannya kepada negara-negara lain di Timur Tengah untuk membangun Sebagian wilayah. Pernyataan Trump menjadi atensi internasional. Pelapor Khusus Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk wilayah pendudukan Palestina, Francesca Albanese.

Pada acara yang diselenggarakan oleh Erasmus University Rotterdam, Belanda, Albanese membawakan materi tentang Human Rights in the Palestinian Territories (Hak Asasi Manusia di Wilayah Palestina). Ia menegaskan pernyataannya mengenai apa yang terjadi di Palestina berikut teritorial yang memang milik rakyat Palestina.

Albanese sempat menarik perhatian publik karena menjadi pelapor PBB yang berani menyebut Israel telah melakukan Genosida. Ucapan tersebut dilontarkannya setelah melakukan investigasi mendalam terkait perang yang sudah terjadi 75 tahun.

“Ini bukan hanya genosida. Ini adalah genosida yang pertama kalinya terjadi di dalam konteks kolonialisme pemukim,” katanya saat membuka materi pada Jumat, (14/2/2025).

Baca juga:

Kondisi Palestina saat ini dinilai sudah tidak terorganisir dengan baik. Sejak Israel memasuki Negara tersebut, budaya mereka telah diambil alih dan bahasa ibu di Tanah tersebut sudah tercampur aduk. Bahkan, wilayah Palestina sudah diambil alih sebanyak 85 persen.

“Israel mengambil alih sedikit demi sedikit wilayah Palestina,” tambahnya.

Pengacara Internasional asal Italia ini, menceritakan bahwa pemerintahan Palestina sudah terambil alih oleh militer. Militer digunakan sebagai penjaga keamanan dan segala jenis keamanan telah dilakukan. Para warga dan anak-anak Palestina sudah terbiasa hidup seperti itu.

Penyimpangan, kebrutalan, dan pelanggaran yang dilakukan Israel untuk mengambil wilayah palestina Israel menaruh tentara-tentaranya untuk menyerang warga Palestina adalah kejahatan.

“Ini adalah kejahatan yang menganggap peraturan internasional sebagai sebuah peraturan tanpa etik,” paparnya.

Albanese juga menilai apa yang telah dilakukan di West Bank (Tepi Barat Gaza) berbanding terbalik dengan isi Konvensi Jenewa tahun 1949 tentang Perlindungan Korban Perang. Misalnya, tentara yang mengambil alih tempat tinggal para warga sipil dan menduduki tempat tersebut. Tentunya hal tersebut sangat aneh menurutnya.

“Kenapa harus ada pendudukan atas tanah sipil oleh militer? Kenapa begitu?” tanyanya.

Ia mengatakan, seharusnya hal tersebut dilarang. Dalam Konvensi Jenewa 1949, hal tersebut telah diatur mengenai Perlindungan Orang Sipil di waktu Perang yang tertuang dalam Konvensi nomor 4. Kondisi tersebut mengingatkan Albanese dengan ekspansi yang dilakukan Adolf Hitler dari Jerman. Hitler menduduki tanah orang lain. Lalu, menjadikan dirinya sebagai Presiden. Sama seperti yang dilakukan Israel.

“Israel telah mengambil tanah mungkin telah memusnahkan warga Palestina,” katanya.

Albanese menilai kondisi Palestina bergantung dalam sejumlah fragmentasi dan tak dapat hidup opresif. Teritorial Palestina yang saat ini seperti penjara. Gaza telah menjadi sebuah Ghetto, sebuah teritori yang terisolasi dan dikendalikan sepenuhnya oleh sistem yang menekan warga Palestina. Ketegangan yang meningkat dengan keberadaan sistem hukum yang tidak adil, menyebabkan warga Palestina tidak memiliki akses keadilan.

“Realita ini memperburuk keadaan yang dihadapi warga Palestina,” ucapnya.

Ia mengingatkan sering kali Gaza terlupakan oleh banyak pihak. Mereka hanya menjadi saksi bisu atas penderitaan rakyat Palestina. Sejak 2008 sampai 2023, wilayah ini telah dilanda 5 perang besar dengan Israel yang mengakibatkan banyak korban jiwa.

Namun, dampak yang lebih mendalam dirasakan oleh Masyarakat Palestina secara kolektif. Ketika sebuah komunitas terus-menerus dihantam peperangan dan kehilangan. Albanese menyebutkan, mereka tak hanya menderita secara fisik tetapi juga secara emosional dan mental.

“Apa yang terjadi ini menciptakan luka kolektif yang sulit sembuh,” paparnya.

Di ujung materinya, Albanese mengatakan sejarah panjang perjuangan Palestina telah mengajarkan dunia dan yang terpenting memahami pengorbanan yang dilakukan rakyat Palestina.

“Terima kasih kepada rakyat Palestina. Indonesia yang solid mendukung. Hidup sebagai bangsa yang Merdeka merupakan hak fundamental,” tutupnya.

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info