Berita

Tarik Ulur Pembebasan, Ini Kata Pengacara Abu Bakar Ba’asyir

Pengacara dan keluarga berharap Abu Bakar Ba’asyir bisa segera dibebaskan mengingat usianya yang sudah sepuh dan kesehatan sering terganggu.

Oleh:
Rofiq Hidayat
Bacaan 2 Menit
Abu Bakar Ba'asyir. Foto: SGP.
Abu Bakar Ba'asyir. Foto: SGP.

Pemerintah tengah mengkaji ulang rencana membebaskan terpidana terorisme, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Padahal sebelumnya, Presiden Jokowi melalui kuasanya, Yusril Ihza Mahendra, bakal memberi keringanan pembebasan murni (tanpa syarat) terhadap Abu Bakar Ba’asyir. Alasan utama ditundanya pembebasan Ba’asyir lantaran dirinya enggan menandatangani pernyataan ikrar setia terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

Salah satu Tim Pengacara Muslim (TPM) selaku penasihat hukum Ba’asyir, Guntur Fattahillah menilai langkah pemerintah tidak konsisten. Sebab, awalnya Abu Bakar Ba’asyir bakal dibebaskan, tetapi belakangan muncul sikap pemerintah yang akan mengkaji ulang gara-gara Ba'asyir disebut menolak menandatangani ikrar setia terhadap NKRI.  

 

“Masalahnya janji yang disampaikan Presiden Jokowi, sepertinya bakal dibatalkan, itu lucu,” ujar anggota TPM, Guntur Fattahillah melalui sambungan telepon, Rabu (23/1/2019). Baca Juga: Mendudukan Polemik Hukum Pembebasan Abu Bakar Ba’asyir

 

Dia merasa janji Presiden Jokowi yang akan membebaskan kliennya dengan alasan kemanusiaan nampaknya bakal ditarik kembali, setelah Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto menyatakan bakal mengkaji ulang proses pembebasan ini.

 

Menurut Guntur, langkah Presiden ceroboh ketika menyampaikan ke publik tanpa terlebih dahulu melakukan kajian. Meski begitu, kata dia, Ba’asyir sebenarnya sudah berhak mendapat pembebasan bersyarat sejak 13 Desember 2018 lalu lantaran telah menjalani 2/3 masa hukuman dan berkelakuan baik selama dalam Rutan atau Lapas.

 

“Anda itu Presiden Republik Indonesia, wibawanya dimana? Negara ini mau dibawa kemana kalau soal Ustadz Abu Ba’asyir saja tidak ada ketegasan,” kritiknya.

 

Guntur mengungkapkan Abu Bakar Ba’asyir tak pernah menandatangani dokumen terkait penolakan terhadap Pancasila dan NKRI. Menurutnya, Ba’asyir tetap setia terhadap NKRI dan Pancasila. Sebab, sila-sila Pancasila itu juga bermuatan nilai-nilai Islam, maka Ba’asyir mengambil nilai-nilai Islam tersebut.   

Tags:

Berita Terkait