“Jangan pernah takut mengejar mimpi dengan sepenuh hati,” begitu prinsip yang dipegang teguh oleh Andini. Ia adalah satu-satunya anak perempuan di keluarga. Memiliki saudara laki-laki, membuatnya tumbuh sebagai pribadi yang unik dan terbiasa menghadapi lingkungan yang berbeda.
Ketika seluruh keluarganya memilih jalur keuangan dan akuntansi, Andini justru mengambil jalan berbeda, yaitu bidang hukum. Dunia hukum sering kali dianggap sebagai ranah maskulin, penuh persaingan keras dan dominasi laki-laki. Namun, Andini tidak gentar. Inspirasi yang ia dapatkan dari serial Law and Order sejak masa sekolah membuatnya mantap menapaki jalur ini.
Meski sempat ditentang orang tua, persistensi yang ia tunjukkan akhirnya meyakinkan mereka. Andini pun berhasil menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, sebuah langkah besar yang menandai keberaniannya untuk berdiri tegak di dunia yang didominasi laki-laki.
Di kampus, Andini mengambil kekhususan hukum acara. Ia dipercaya memimpin teman-temannya sebagai hakim ketua dalam salah satu moot court internal. Peran itu menuntutnya untuk menjadi group leader yang harus bekerja ekstra, mulai dari mengerjakan tugas hingga larut malam, memeriksa berkas, dan memastikan semua detail berjalan sempurna. Bagi Andini, pengalaman ini bukan semata tugas, melainkan kesempatan untuk mencoba, berlatih, dan membuktikan bahwa ia bisa unggul di bidang yang ia cintai.
Setelah menyelesaikan masa studi selama 3,5 tahun, Andini berada di persimpangan. Saat itu ada penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kejaksaan Agung RI. Namun yang lebih menarik perhatiannya justru sebuah kantor hukum. “Melalui firma hukum, exposure yang didapatkan mungkin lebih banyak dan beragam,” begitu tekadnya. Di kantor hukum pertamanya, selain bidang litigasi, Andini terlibat dalam penyusunan kompilasi dan analisis atas perubahan Undang-Undang Hak Cipta Kerja pada bidang pertanahan dan penyusunan kontrak komersial.
Ia juga ikut serta dalam berbagai proses pendaftaran merek dan desain industri, yang menjadi pintu pembuka atas perluasan wawasan tentang praktik hukum di bidang kekayaan intelektual. Dari sini, Andini semakin memahami bahwa hukum bukan hanya soal litigasi, tetapi juga tentang melindungi karya, ide, dan inovasi.
Saat bergabung dengan ADCO Law, Andini masuk sebagai salah satu associate dalam praktik grup Kekayaan Intelektual (KI). Andini tidak hanya mengurus pendaftaran merek dan hak cipta, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan litigasi dan non-litigasi yang berkaitan dengan KI. Dari depan layar laptop hingga ruang sidang, Andini menunjukkan bahwa dirinya mampu menguasai spektrum penuh praktik hukum kekayaan intelektual.
















