Ketenagakerjaan

Bingung Hitung Upah Lembur? Ini Rumusnya

Bacaan 4 Menit
Bingung Hitung Upah Lembur? Ini Rumusnya

Pertanyaan

Saya bagian SDM pada sebuah perusahaan swasta. Dalam Pasal 8 KEP 102/MEN/IV/2004 dinyatakan bahwa perhitungan upah lembur didasarkan pada upah bulanan dengan perhitungan upah 1/173 kali upah sebulan. Apabila perusahaan tersebut dalam menghitung upah lembur tidak sesuai dengan Pasal 8 KEP 102/MEN/IV/2004 tetapi menggunakan metode lain di mana upah yang dihitungkan adalah upah harian langsung dibagi 8 jam. Apakah metode ini layak digunakan? Mohon Penjelasannya.

Intisari Jawaban

circle with chevron up

Upah lembur pada dasarnya dihitung berdasarkan upah bulanan, dan bukan upah harian seperti yang ditanyakan. Tapi, jika perhitungan upah kerja lembur yang digunakan oleh perusahaan nilainya lebih baik dari ketentuan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP-102/MEN/VI/2004 Tahun 2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur, maka perhitungan itu diperbolehkan dan tetap berlaku.

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda klik ulasan di bawah ini.

Ulasan Lengkap

 

Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Upah Lembur yang dibuat oleh Umar Kasim dan pertama kali dipublikasikan pada Selasa, 2 Maret 2010.

 

Kewajiban Membayar Upah Lembur

Sebelum membahas mengenai upah lembur, kamu perlu memahami terlebih dahulu bahwa setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja, yaitu:

  1. 7 jam sehari dan 40 jam seminggu untuk 6 hari kerja dalam seminggu; atau
  2. 8 jam sehari dan 40 jam seminggu untuk 5 hari kerja dalam seminggu.

Patut dicatat, mempekerjakan lebih dari waktu kerja sebisa mungkin harus dihindarkan karena pekerja harus punya waktu yang cukup untuk istirahat dan memulihkan kebugarannya.

Tapi, jika ada kebutuhan mendesak yang harus segera diselesaikan dan tidak dapat dihindari, maka pekerja dapat bekerja melebihi waktu kerja dengan harus memenuhi 2 syarat, sebagai berikut:

  1. ada persetujuan pekerja yang bersangkutan; dan
  2. waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling lama 4 jam dalam sehari dan 18 jam dalam seminggu.

Karena telah bekerja melebihi waktu kerja, pengusaha wajib membayar upah kerja lembur.

 

Cara Hitung Upah Lembur

Untuk menghitung upah kerja lembur saat ini diatur dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP-102/MEN/VI/2004 Tahun 2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur (“Kepmenakertrans 102/2004”).

Menjawab pertanyaan Anda, saat ini upah lembur dihitung berdasarkan pada upah bulanan. Jika upah dibayarkan secara harian, maka hitungan besarnya upah sebulan adalah upah sehari dikalikan 25 bagi yang bekerja 6 hari kerja dalam seminggu atau dikalikan 21 bagi yang bekerja 5 hari kerja dalam seminggu.

Kemudian, jika upah dibayar berdasarkan satuan hasil, maka upah sebulan adalah upah rata-rata 12 bulan terakhir, dan apabila masa kerjanya kurang dari 12 bulan, maka upah sebulan dihitung berdasarkan upah rata-rata selama bekerja dengan ketentuan tidak boleh lebih rendah dari upah minimum setempat.

Berikut ini kami ringkas rumus menghitung upah lembur:

  1. Upah sejam: 1/173 x upah sebulan
  2. Lembur di Hari Kerja

a) Jam kerja lembur pertama                  : 1,5 x upah sejam

b) Setiap jam kerja lembur berikutnya     : 2 x upah sejam

  1. Lembur di Hari Istirahat Mingguan dan/atau Hari Libur Resmi

a. Untuk waktu kerja 6 hari kerja 40 jam seminggu

  • 7 jam pertama              :2 x upah sejam
  • Jam ke-8                      :3 x upah sejam
  • Jam ke-9 dan ke-10       :4 x upah sejam

Tapi jika hari libur resmi jatuh pada hari kerja terpendek:

  • 5 jam pertama                   :2 x upah sejam
  • Jam ke-6                          :3 x upah sejam
  • Jam ke-7 dan ke-8              :4 x upah sejam
  1. Untuk waktu kerja 5 hari kerja dan 40 jam seminggu:
  • 8 jam pertama                   :2 x upah sejam
  • Jam ke-9                          :3 x upah sejam
  • Jam ke-10 dan ke-11           :4 x upah sejam

Bagi perusahaan yang telah melaksanakan dasar perhitungan upah lembur yang nilainya lebih baik dari Kepmenakertrans 102/2004 ini, maka hitungan upah lembur tersebut tetap berlaku.

Jadi, dasar untuk menghitung upah kerja lembur didasarkan pada upah bulanan dan bukan upah harian seperti pada pertanyaan. Namun, jika hitungan upah kerja lembur dari perusahaan itu nilainya lebih baik, maka hitungan tersebut diperbolehkan dan tetap berlaku.

Sebagai tambahan informasi, merujuk dari Aturan Turunan UU Cipta Kerja Klaster Ketenagakerjaan Oleh: Umar Kasim*) menyatakan ada 4 Rancangan Peraturan Pemerintah (“RPP”) yang jadi turunan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, salah satunya RPP Waktu Kerja dan Waktu Istirahat (“WKWI”).

Masih dari laman yang sama, menurutnya dalam RPP WKWI perlu mengatur norma waktu kerja lembur di hari kerja biasa atau di hari istirahat mingguan dan/atau hari libur nasional, yang substansinya dapat diadopt dari Kepmenakertrans 102/2004.

Seluruh informasi hukum yang ada di Klinik hukumonline.com disiapkan semata–mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum (lihat Pernyataan Penyangkalan selengkapnya). Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Konsultan Mitra Justika.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Dasar Hukum:

  1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
  2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja;
  3. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP-102/MEN/VI/2004 Tahun 2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur.
Tags: