Penggunaan kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI) di kalangan jurnalis Indonesia terus meningkat dan kini memasuki fase transisi. Hasil survei terhadap lebih dari 200 jurnalis oleh BBC Media Action menunjukkan sekitar 75 persen telah menggunakan AI dalam pekerjaan mereka, dengan 94 persen pemanfaatannya berbentuk produksi dan pengolahan teks.
Research Manager BBC Media Action, Rosiana Eko mengatakan mayoritas jurnalis melihat AI sebagai peluang. Sekitar 74 persen responden menilai AI membuka kesempatan untuk bekerja lebih efektif, mulai dari pencarian ide liputan, penyusunan sudut pandang berita, hingga penyuntingan naskah dan optimalisasi judul ramah mesin pencari (SEO).
“Ternyata dari hasil riset kita jurnalis Indonesia itu kebanyakan memandang AI itu lebih positif. Hampir lebih dari 50 persen mereka memandang AI itu justru membantu produktivitasnya, kemudian lebih banyak membantu pekerjaan lebih efektif,” ujar Rosiana Eko dalam diskusi publik bertajuk “Navigating AI in Newsrooms: Research Insights and Media Business Sustainability” di Jakarta, Jum’at (20/2/2026).

Research Manager BBC Media Action Rosiana Eko.
Baca Juga:
Jurnalisme Berkualitas Kian Penting di Tengah Gempuran AI dan Platform Digital
Jurnalisme di Bawah Bayang Algoritma: Ketika Iklan Digital Menjadi Tuan
Sementara 45 persen melihat AI sebagai ancaman (threat). Sekitar 30 persen responden menilai AI berdampak negatif. Mereka khawatir AI membuat jurnalis menjadi kurang mendalam dalam analisis, berpotensi memicu disinformasi, serta menurunkan kepercayaan publik akibat ketergantungan berlebihan pada teknologi.
Rosiana menegaskan adopsi AI di Indonesia kini berada dalam fase transisi. Mayoritas jurnalis menerima teknologi ini, namun tetap menghadapi tantangan berupa penurunan kepercayaan publik serta kebutuhan regulasi dan literasi AI yang lebih kuat, terutama di media daerah.
Menurutnya, diperlukan untuk satu kerja sama yang kolektif antar sektor dengan melihat bagaimana kecanggihan AI itu sudah masuk ke pekerjaan jurnalis. Selain itu, perlu juga secara kolektif membuat satu kebijakan yang bisa diterapkan di media yang tidak hanya di media nasional, tapi media-media kecil yang di daerah juga perlu membuat satu transparansi bagaimana disclaimer AI itu diterapkan.
“Juga bagaimana meningkatkan literasi AI di kalangan jurnalis. Jadi AI justru menguatkan pekerjaan jurnalis, semakin membuat jurnalis yang integrasi daripada kita harus kompromi dengan penggunaan AI,” kata Rosi.
















