Sejumlah negara di dunia mulai mengambil langkah penghematan energi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik. Termasuk ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi ini tidak hanya memicu instabilitas politik, tetapi berdampak langsung pada rantai pasok energi dunia.
Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah bahkan berpotensi mengganggu jalur perdagangan dan distribusi energi global, yang selama ini menjadi tulang punggung pasokan minyak dunia. Kondisi ini memicu kekhawatiran terjadinya krisis energi, seiring menurunnya produksi dan terganggunya distribusi energi di sejumlah wilayah.
Sebagai respons kondisi situasi tersebut, berbagai negara mulai menerapkan kebijakan efisiensi energi. Mulai dari pembatasan konsumsi hingga penyesuaian aktivitas ekonomi. Seperti Korea Selatan yang mengkampanyekan penghematan energi.
Begitupula India, China, Pakistan yang mulai melakukan pembatasan ekspor bahan bakar. Sementara Jepang dan Serbia meningkatkan penggunaan Batubara dan energi nuklir, hingga negara-negara Eropa seperti Spanyol menyikapinya dengan pendekatan berbasis insentif untuk perekonomian.
Baca juga:
- Perempuan Masih Minim Terlibat dalam Kebijakan Transisi Energi meski Jadi Garda Terdepan
- Pemicu Serangan AS-Israel ke Iran: Ancaman Nuklir dan Politik Regional
Sementara Indonesia melalui imbauan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memastikan kebijakan bekerja dari rumah mulai diterapkan setelah lebaran. Kebijakan ini bertujuan menghemat energi di tengah kenaikan harga minyak dunia, berlaku wajib bagi ASN dan bersifat imbauan bagi sektor swasta, dengan pelaksanaan satu hari setiap pekan.
Langkah yang diambil pemerintah Indonesia tersebut menunjukkan upaya penghematan energi tidak lagi sekadar bersifat imbauan administratif, tapi mulai diarahkan sebagai respons strategis terhadap tekanan global di sektor energi. Kebijakan seperti pengaturan pola kerja menjadi bagian dari instrumen manajemen konsumsi energi yang lebih luas. Terutama ketika harga minyak dunia meningkat dan ketahanan energi nasional menghadapi tantangan.
















