Sejumlah pernyataan dari asosiasi pengusaha hingga otoritas pemerintah menegaskan bahwa transmisi risiko dapat terjadi melalui harga minyak, inflasi impor, nilai tukar rupiah, hingga rantai pasok. Berikut sejumlah sektor yang dinilai paling terdampak.
1. Logistik, perdagangan, dan inflasi impor
Dalam pernyataan resminya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai konflik ini berisiko mengganggu arus perdagangan menuju Timur Tengah dan sekitarnya. Kekhawatiran pelaku usaha saat ini adalah meningkatnya risk premium harga minyak dan gas, serta kenaikan biaya logistik internasional.
“Bahkan tanpa penutupan jalur secara fisik, ketidakpastian saja sudah dapat mendorong lonjakan harga energi dan biaya logistik global. Bagi Indonesia sebagai net importer minyak, tekanan tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi dan mempersempit ruang fiskal apabila harga energi global terkerek naik di atas asumsi APBN,” ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, Minggu (1/3/2026).
Selain energi, dunia usaha juga mencermati risiko rambatan terhadap inflasi pangan. Kenaikan harga energi akan berdampak pada biaya distribusi, logistik, dan transportasi komoditas pangan. Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut dapat mempercepat kenaikan harga bahan pokok, terutama jika dibarengi gangguan pasokan global atau pelemahan nilai tukar. Oleh karena itu, stabilitas pasokan dan distribusi pangan menjadi aspek krusial yang perlu dijaga jika dampak konflik meluas dan berkepanjangan.
Dari sisi fiskal, apabila harga energi bertahan tinggi, beban subsidi dan kompensasi energi berpotensi meningkat. Apindo menilai penting bagi pemerintah untuk mengelola risiko ini secara hati-hati agar tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap defisit dan pembiayaan utang negara.
Di sisi eksternal, dinamika risk-off global dapat meningkatkan volatilitas nilai tukar. Pelemahan rupiah akan memperbesar biaya impor energi dan pangan, sehingga koordinasi kebijakan moneter dan fiskal perlu diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
“Walaupun hubungan dagang langsung Indonesia dengan Iran dan Israel relatif terbatas, efek tidak langsung melalui harga energi global, disrupsi perdagangan internasional, inflasi pangan, nilai tukar, dan sentimen pasar keuangan menjadi faktor yang jauh lebih relevan bagi dunia usaha nasional,” ujar Shinta.
















