Eskalasi Perang Iran VS AS-Israel dan Potensi Dampaknya bagi Indonesia
Utama

Eskalasi Perang Iran VS AS-Israel dan Potensi Dampaknya bagi Indonesia

Harga minyak melonjak, pasar keuangan bergejolak, dan jalur logistik internasional terancam.

Willa Wahyuni
Bacaan 4 Menit

Adapun dalam jangka pendek, ia meminta pelaku usaha saat ini fokus pada langkah-langkah mitigasi risiko yang bersifat realistis dan adaptif. Diantaranya melalui penyesuaian struktur biaya produksi dan distribusi, peningkatan efisiensi operasional, penerapan manajemen risiko yang lebih disiplin.

Termasuk pengelolaan eksposur valas, diversifikasi sumber pasokan, hingga pemanfaatan instrumen lindung nilai atau natural hedging yang tersedia. Secara keseluruhan, dunia usaha menyikapi kondisi ini dengan pendekatan wait and see but prepared apabila tekanan global berlanjut.

          2. Kenaikan harga minyak

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, gangguan pada pasokan minyak global berpotensi mendorong kenaikan harga energi, termasuk harga bahan bakar minyak (BBM).

Lonjakan harga minyak dunia berisiko meningkatkan beban subsidi energi dan memberi tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi ini dinilai serupa dengan situasi saat pecahnya perang Rusia-Ukraina yang sempat memicu lonjakan harga energi global dan inflasi di berbagai negara.

“Otomatis akan naik sama seperti saat perang Ukraine kan naik. Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya,” kata Airlangga sebagaimana dikutip dari laman Antara.

Dari pernyataan terbaru Airlangga, Indonesia telah mengamankan pasokan energi dari berbagai sumber di luar Timur Tengah sebagai langkah mitigasi menghadapi dampak perang Iran-AS-Israel. Ia menyebut alternatif tersebut berasal dari kerja sama perdagangan dengan AS serta akses pasokan yang dimiliki oleh PT Pertamina dari Venezuela.

          3. Pasar keuangan tertekan

Ketika konflik memanas, investor cenderung mengurangi aset berisiko. Antara melaporkan IHSG melemah dan sorotan pasar tertuju pada durasi konflik, stabilitas Hormuz, dan arah harga minyak.  Bank Indonesia juga menyatakan menjaga stabilitas rupiah di tengah konflik, Hukumonline mencatat rupiah berada di sekitar Rp16.917 per dollar AS pada 6 Maret 2026 (pagi).

Halaman Selanjutnya:
Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info