“Setelah kami lakukan forensik dengan warna putih yang dapat diindikasikan C-1 itu sudah diedit. Dari analisis itu, kami menemukan pola-pola kesalahan pada situng terkait entry data untuk menggelembungkan suara Paslon 01 dan mengurangi Paslon 02. mengarah pada C-1 dengan pola yang sama. Untuk DPT fiktif ada dugaan pula bahwa DPT itu digunakan untuk bermain suara dengan menggunakan C-1 tersebut,” kata Jaswar yang juga pengajar pada University Technology Malaysia.
Atas dasar itu, hasil perolehan suara pilpres yang benar menurut Pemohon, Paslon 01 Jokowi-Ma’ruf sebesar 63.573.169 suara atau sebesar 48 persen dan Paslon 02 Prabowo-Sandi berjumlah 68.650.239 suara atau sebesar 52 persen. Dengan begitu, penetapan rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara versi KPU, yakni Paslon 01 Jokowi-Maruf mendapat perolehan sebanyak 85.607.362 suara atau sebesar 55.50 persen dan Paslon 02 Prabowo-Sandi sebanyak 68.650.239 suara atau sebesar 44.50 persen tidak sah karena diperoleh dengan cara-cara yang tidak benar dan melawan hukum.
Ahli Pemohon lain, Soegianto Soelistiono mengatakan sebelum banyak sorot mata mengamati Situng KPU di media, dirinya telah melakukan peninjauan dan eksplorasi halaman demi halaman pada situng dengan mengambil data tiap 2–3 kali dalam sehari. Dengan menggunakan 16 server, ia rutin melihat tampilan situng KPU yang disimpannya dalam sebuah database.
Dari pengamatan dan analisisnya, Soegianto menemukan persentase situng yang tidak berubah sampai dengan tanggal 20 Mei 2019 atau sebelum KPU menyampaikan pengumuman perolehan suara Pilpres 2019. Alumnus ITS dan doktor ITB bidang fisika komputasi ini melakukan beberapa metode analisis. Diantaranya metode analisis matematika dengan menggunakan perolehan suara Paslon 01 dan Paslon 02 dan suara tidak sah dengan total kehadiran apakah sama atau tidak.
Selain itu, Soegianto melakukan analisis terhadap jumlah DPT dengan yang hadir, analisis terhadap keberadaan form C-1 yang tidak ada, sementara teks rekapitulasinya ada. Diakui Soegianto bahwa terhadap hal ini, ia melakukan analisis setiap hari. Dari pengamatannya tersebut, ditemukan beberapa hal, diantaranya pada 1 Mei 2019 telah ditemukan 57.000 data invalid termasuk dengan ketiadaan C-1.
Hal menarik dari pengamatannya terhadap situng dari hari ke hari adalah pada 1 Ramadhan 1440 H, mesin pengambilan halaman situng tiap 15 menit mengalami perubahan informasi dengan menunjukkan jumlah perolehan suara Paslon 02 mengalami penurunan dan cenderung menjadi berkurang. “Ini sesuatu yang unik dan perlu untuk dicurigai,” ujar dalam persidangan yang sama.
Dalam melakukan analisisnya terhadap situng KPU, Soegianto dibantu oleh relawan dari pihak manapun baik paslon 01 dan paslon 02 yang bersedia mengirimkan form C-1. Dari sejumlah data yang didapatnya tersebut, Soegianto mendapati adanya pengurangan perolehan suara dari Paslon 02 dibandingkan Paslon 01.
















