Pengakuan Pelaku Cabul dan Visum et Repertum sebagai Alat Bukti

Bacaan 5 Menit
Pengakuan Pelaku Cabul dan <i>Visum et Repertum</i> sebagai Alat Bukti
Pertanyaan

Dalam satu rumah ada anak perempuan (6 tahun), bapak, kakek, nenek, paman. Ibu anak tersebut bekerja sebagai TKI. Suatu hari anak mengeluh sakit ketika buang air kecil. Setelah diperiksa ada bekas luka di V anak tersebut. Ketika ditanya, anak tersebut tidak tahu penyebabnya. Keluarga mencurigai bapaknya telah melakukan cabul dikarenakan setiap hari anak tersebut tidur dan mandi dengan si bapak karena masih kecil dan ibunya pergi bekerja. Akirnya, si bapak mengakui melakukan perbuatan cabul. Pertanyaannya, apakah dengan pengakuan bapak, serta didukung dengan didukung hasil visum, ia bisa dijerat pidana? Sedangkan anak tersebut secara jelas tidak tahu apa penyebab sakit ketika kencing. Keluarga hanya curiga karena setiap hari bersama bapaknya saja.

Intisari Jawaban

Pengakuan pelaku yang yang mengakui tindak pidana tidaklah cukup, sebab tetap memerlukan alat bukti yang lain untuk memenuhi ketentuan minimal pembuktian, yaitu sekurang-kurangnya dua alat bukti.

Visum et Repertum yang merupakan laporan tertulis yang dibuat oleh dokter atau ahli forensik lainnya yang berisi apa yang mereka temukan pada tubuh korban sendiri dapat dikategorikan sebagai alat bukti surat.

Sementara itu, apabila pihak yang mengeluarkan Visum et Repertum juga turut diperiksa dan dimintai keterangan, ini dapat dijadikan alat bukti yang lain. Apakah itu?

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda klik ulasan di bawah ini.

Punya Masalah Hukum Yang Sedang Dihadapi?
Mulai dari Rp 30.000
Powered By Justika