Terima kasih atas pertanyaan Anda.
Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran ketiga dari artikel dengan judul Bolehkah Suami Mengajukan Cerai Saat Istri Hamil? yang dibuat oleh Tri Jata Ayu Pramesti, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 26 Juni 2013, yang pertama kali dimutakhirkan oleh Bernadetha Aurelia Oktavira, S.H. pada 23 November 2023, dan dimutakhirkan kedua kalinya oleh Renata Christha Auli, S.H. pada 23 Oktober 2024.
Seluruh informasi hukum dalam Klinik Hukumonline disediakan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Silakan mempelajari Pernyataan Penyangkalan untuk informasi selengkapnya. Untuk memperoleh nasihat hukum yang sesuai dengan kasus Anda, silakan berkonsultasi langsung dengan Konsultan Mitra Justika.
Pada dasarnya untuk dapat melakukan perceraian, suami istri tersebut harus mempunyai alasan bahwa mereka tidak dapat hidup rukun lagi, sebagaimana dikatakan dalam Pasal 39 ayat (2) UU Perkawinan berikut.
Selain UU Perkawinan dan PP 9/1975, jika Anda beragama Islam, Anda dapat merujuk pada ketentuan dalam KHI. Mengenai alasan perceraian, pada dasarnya KHI menganut hal yang sama dengan dua peraturan di atas. Akan tetapi dengan tambahan dalam KHI diatur juga bahwa perceraian dapat terjadi dengan alasan suami melanggar taklik-talak dan peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga sebagaimana diatur dalam Pasal 116 KHI.
Dengan melihat alasan-alasan perceraian di atas, dapat diketahui bahwa tidak ada alasan kuat bagi suami Anda untuk menggugat cerai Anda. Kecuali jika memang ada alasan lain yang sedemikian rupa dapat memicu pertengkaran sehingga tidak ada harapan bahwa Anda dan suami dapat hidup rukun lagi.
Namun demikian, jika melihat posisi Anda yang dirugikan atas sikap suami Anda yang berzina, justru Anda yang memiliki alasan untuk menggugat cerai. Akan tetapi, sekali lagi, kami tidak menyarankan Anda untuk menggugat cerai suami. Sebaiknya Anda membicarakan baik-baik dan menyelesaikan permasalahan ini secara damai dengan suami Anda, terlebih Anda sedang hamil.
Hal ini karena dalam sidang perceraian pun, hakim yang memeriksa gugatan perceraian biasanya berusaha mendamaikan kedua pihak yang dilakukan pada setiap sidang pemeriksaan selama perkara belum diputuskan.[1]
Berfokus pada keadaan Anda yang sedang hamil, lalu apakah boleh cerai saat hamil? Sepanjang penelusuran kami hukum Islam tidak mengatur larangan cerai saat hamil, baik dalam UU Perkawinan, PP 9/1975, KHI, maupun hadis.
Justru diatur mengenai masa tunggu (masa iddah) bagi janda yang diceraikan oleh suaminya ketika sedang hamil, yaitu sampai ia melahirkan.[2] Ini menunjukkan bahwa aturan hukum membolehkan suami menggugat cerai istrinya meskipun istrinya sedang hamil.
Adapun hukum cerai saat hamil dalam Islam sendiri diperbolehkan. Alasan tersebut didasarkan sabda Rasulullah SAW pada hadis dalam Shahih Muslim yang artinya “silahkan talak istrimu, dalam kondisi suci atau ketika sedang hamil.” (HR. Ahmad dan Muslim). Hadis tersebut berarti yang tidak diperbolehkan adalah menceraikan istri yang sedang haid, dan harus menunggu istri suci terlebih dahulu.
Kemudian, terkait kasus yang Anda hadapi, jika Anda hendak melaporkan suami Anda yang telah berzina secara pidana, silakan simak ulsan perihal pasal perzinaan yang dapat menjerat suami dengan selingkuhannya dalam artikel Pidana Selingkuh Tanpa Bersetubuh bagi Pasangan, Adakah?
Selanjutnya, jika Anda hendak menuntut suami yang telah berzina, Anda dapat melaporkan tindak pidana perzinaan kepada polisi yang prosedurnya dapat Anda simak dalam Mau Melaporkan Tindak Pidana ke Polisi? Begini Prosedurnya.
Demikian jawaban dari kami tentang bolehkah cerai saat hamil sebagaimana ditanyakan, semoga bermanfaat.
Dasar Hukum: