“AIlex ini kami manfaatkan untuk mencari regulasi itu sendiri dan juga berbagai fiur lainnya bisa dimanfaatkan untuk brainstorming,” katanya.
Seira mencontohkan penggunaannya ketika ICW mengkaji berbagai persoalan dalam sistem pemilu, termasuk pendanaan kampanye, sistem pemilu, dan pencalonan. Dalam proses tersebut, kemampuan menemukan ketentuan yang spesifik membantu peneliti mengarahkan analisis pada bagian regulasi yang dibutuhkan.
Meski demikian, Staf Divisi Korupsi Politik ICW ini pun menegaskan bahwa AIlex tidak menggantikan proses analisis dan verifikasi yang dilakukan peneliti. Hasil yang diberikan teknologi tersebut ditempatkan sebagai referensi awal untuk membantu pendalaman lebih lanjut.
“Informasi dan rujukan awal yang diberikan oleh fitur tersebut akurat dan bisa mempermudah kami untuk melakukan pendalamannya secara lebih spesifik,” sebut Seira.
Ke depan, ICW berkomitmen melanjutkan pemantauan, riset, dan advokasi untuk mendorong penyelenggaraan pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Upaya tersebut juga mencakup penyebarluasan informasi agar masyarakat memahami persoalan korupsi dan tidak menganggap praktik tersebut sebagai sesuatu yang wajar.
“Kami akan terus melakukan pemantauan, riset, dan itu dilakukan bersama-sama dengan teman-teman yang lain karena tentu korupsi sangat sulit bila dilakukan satu orang atau satu lembaga saja,” pungkasnya.
















