Tak selamanya yang kecil tidak menjadi baik. Demikian filosofi yang sangat dijunjung oleh firma hukum Tumbuan & Partners (T&P). Oleh karenanya, firma hukum itu memilih untuk terus bertahan sebagai kantor hukum kecil, atau biasa disebut boutique law firm.
Menurut Jennifer Tumbuan, managing partner sekaligus anak dari pendiri T&P Fred Tumbuan, dengan menjadi boutique law firm, pihaknya bisa terus menjaga kualitas jasa yang diberikan kepada klien. Oleh karena itu, dari segi ukura,n Jennifer menuturkan bahwa dirinya memang tak berkeinginan untuk buru-buru menjadi besar.
Ia pun mengibaratkan, firma hukumnya seperti butik para desainer ternama yang menjahitkan pakaian sesuai kebutuhan dan keinginan masing-masing klien. “Pada intinya kita berkembang sesuai dengan kemampuan. Kita tidak mau untuk memaksakan diri,” tutur Jennifer kepada hukumonline di kantornya, Rabu (18/11).
Toh, dengan ukuran yang kecil Jennifer menilai firma hukumnya sudah cukup lincah. Ia mengatakan hanya dengan dua orang partner saja,T&P mampu memenangkan banyak tender untuk transaksi high profile yang biasa dikerjakan law firm besar. Selain itu, T&P telah banyak pula mendapat penghargaan-penghargaan bergengsi.
Prestasi teranyar yang disabet T&P adalah Boutique Law Firm of The Year dalam Indonesia Law Awards 2015. Selain kemenangan dalam kategori itu, T&P juga berhasil bertengger sebagai nominator pada delapan kategori lainnya. Kategori tersebut adalah Banking and Financial Services Law Firm of The Year, Real Estate Law Firm of The Year, Restructuring and Insolvency Law Firm of The Year, Project and Energy Law Firm of The Year, Deal Firm of The Year, dan kategori yang diraih oleh Jennifer sebagai finalis Managing Partner of The Year.
Jennifer mengaku sebagai boutique law firm, ia mesti pandai-pandai mengukur kemampuan dalam menerima pekerjaan. Menurutnya, tak jarang pada akhirnya Jennifer harus menolak penawaran klien ketika ia menilai kantornya telah kelebihan pekerjaan. Sebab, seringkali datang pekerjaan yang ditawarkan kepadanya sementara personel counsel yang dimilikinya hanya berkisar 25 orang saja.
“Kalau mau serakah sih, sebenarnya bisa saja kita ambil semua pekerjaan. Tapi kan sebagai butik kita harus mempertahankan kualitas,” ujarnya.
Dirinya mengaku, bisa saja mengembangkan T&P dengan menambah partner baru. Hanya saja, bagi Jennifer memilih partner merupakan pekerjaan yang dalam bahasanya, “susah-susah gampang”. Sebab, baginya partner yang bekerja sama dengannya di T&P harus sesuai dengan karakter firma hukum yang ia bangun.
Salah satu karakter T&P, menurutnya adalah nuansa kekeluargaan yang sangat kental. Bahkan, kantor yang kecil membuat Jennifer hafal semua nama suami maupun istri para associates-nya. Hal semacam itu yang menurutnya membuat ia sulit menemukan partner baru yang cocok.
Ia berkisah, pernah suatu ketika ada partner baru yang bergabung menjadi bagian T&P. Rupanya, orang tersebut tak biasa bekerja dalam lingkungan seperti dalam atmosfer kerja di T&P. Akibatnya, upaya mempertahankan partner itu harus dibayar dengan keluarnya beberapa orang associates sekaligus.
“Salah satu kelebihan kita ya kekeluargaan itu. Hanya, mungkin karena kita kecil dan sangat kekeluargaan, bisa dibilang kita jadi sangat toleran,” tambahnya.
Ia mencontohkan, toleransi yang diberikan kantor kepada para karyawan misalnya saat ada yang akan menikah atau melahirkan Jennifer pun lebih memilih untuk mengganti anggota tim. Ia berharap tenggat waktu pekerjaan yang ketat bisa seimbang pula dengan kehidupan pribadi para karyawan.
Berbeda dengan law firm besar yang menerapkan aturan baku terkait pekerjaan, seperti yang dialami Jennifer sebelum bergabung dengan T&P. Saat itu, setelah menikah ia sampai tak sempat berbulan madu lantaran menyelesaikan pekerjaan kantornya.
Kelebihan boutique law firm, menurut Jennifer adalah birokrasi yang pendek. Jumlah karyawan yang sedikit membuat setiap counsels di kantornya dapat mudah berinteraksi dengan partner. Ia mengatakan, untuk bertemu partner di kantornya tak perlu membuat janji dalam jangka waktu lama dengan sekretaris, tetapi cukup dengan mengetuk pintu.
“Ukuran yang kecil membuat kita bisa memangkas prosedur dan birokrasi yang panjang. Istilahnya jadi lebih gesit. Sebenarnya inilah rahasia kita bisa bekerja efektif dan efisien sehingga semua pekerjaan selesai dengan cepat dan baik,” pungkasnya.
















