Irfan Setiaputra, 'Kapten' di Balik Suksesnya Restrukturisasi Garuda Indonesia
CEO of the Month

Irfan Setiaputra, 'Kapten' di Balik Suksesnya Restrukturisasi Garuda Indonesia

Setelah melalui proses restrukturisasi utang Garuda yang disebut-sebut sebagai terbesar dalam sejarah korporasi di Indonesia, kini pendapatan perlahan mulai kembali naik seiring berakhirnya masa Pandemi Covid-19 dan normalnya bisnis perjalanan penerbangan.

Oleh:
Ferinda K Fachri
Bacaan 6 Menit

Sedangkan penerbangan berjadwal penumpang sendiri tumbuh menjadi US2,21 miliar atau meningkat 52%. Penerbangan tak berjadwal mengalami kenaikan sampai 65% dan mencapai angka US$288,03 juta. Pun untuk pendapatan dari penerbangan haji di tahun 2023 telah melonjak signifikan 145% menjadi US$235,17 juta dibanding tahun sebelumnya. Pendapatan lain-lain ikut naik mencapai angka US$270,58 juta atau sebesar 15%. Setelah masa-masa suramnya, Garuda Indonesia sukses membukukan laba tahun berjalan menyentuh angka US$251.996.580.

Kunci sukses lainnya dari pengalaman Garuda Indonesia adalah pihaknya terus berupaya mencari solusi semaksimal mungkin.

“(Kuncinya) tentu saja negosiasi. Setelah lewati ini bersama para direksi, saya tanya ‘kok kita bisa lewati ya’? Ternyata kesimpulan kita bisa menyelesaikan restrukturisasi Garuda (karena) mereka melihat orang Garuda ini ketika proses selalu datang dengan solusi. Persoalannya, orang yang datang dengan solusi ini dalam kondisi biasa gampang, tapi bisa datang dalam kondisi tertekan kan tidak gampang. Ada syarat orang bisa selalu cari solusi, cuma satu yaitu berpikir positif,” terang Irfan.

Hukumonline.com

“Masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang kita mesti jalankan setelah restrukturisasi, salah satunya mengeksekusi janji. Jadi di proposal setelah kita potong-potong itu kita berjanji untuk bisa menjadi sebuah perusahaan yang menguntungkan. Bukan untung zaman Irfan, tapi untung forever, sustain (berkelanjutan). Satu hal yang paling penting, kita dan teman-teman Direksi jalani itu membangun fundament (dasar) untuk siapapun yang meneruskan kita,” ucap alumni Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Industri dengan margin tipis

Baginya, pijakan tersebut amat penting mengingat implikasi dari kebijakan atau tindakan yang “nyeleneh” dapat berdampak signifikan terhadap perusahaan. “Tidak banyak orang yang tahu kalau industri ini adalah industri yang marginnya tipis sekali. Artinya kalau ada salah melakukan kebijakan atau policy, ini ceritanya bisa panjang. Dan ini bukan cuma Garuda, tapi semua pemain di industri ini. Penting bagi kita membangun sistem fundament baik itu dari sistem, proses, orang, training, dan segala macam,” urai Irfan.

Kehati-hatian menjadi keharusan tatkala margin single digit yang diperoleh maskapai penerbangan. Hanya dengan kesalahan sekecil apapun itu bisa berimplikasi semisal dari margin hanya 5-6% menjadi -3 bahkan sampai -4%. Maka dari itulah wajib hukumnya bagi pemangku posisi di Garuda Indonesia betul-betul memperhatikan segala kebijakan dan tindakan yang diambil. Belum lagi Garuda sendiri masih mempunyai utang yang harus dibayar nantinya, dari pil pahit proses PKPU, Irfan menegaskan pihaknya tidak mau lagi Garuda Indonesia di-PKPU-kan.

Pria kelahiran Jakarta pada 24 Oktober 1964 itu mengaku industri penerbangan menjadi salah satu yang paling menantang. Problematika yang dihadapi dan begitu terasa dapat dijumpai dari segi tatanan regulasi yang dinilai overregulated. Bukan hanya peraturan mengenai penerbangan, maintenance, sampai dengan perlindungan konsumen yang semua itu menurutnya memang harus dihadirkan. Tetapi dirinya kurang setuju ialah pada lingkup komersial sekalipun tetap diatur.

Halaman Selanjutnya:
Tags:

Berita Terkait