Sabtu, 20 July 2019

Lakukan Ini Agar Proposal Perdamaian Tak Ditolak Kreditor

Mulai dari kelaikan restrukturisasi perusahaan, hingga forecasting model bisnis baru.
Hamalatul Qur'ani
Rizky Dwinanto dalam workshop hukumonline bertajuk memahami karakteristik dan aspek hukum corporate debt restructuring agreement serta teknik penyusunannya. Foto: RES

Bagi perusahaan yang sudah diambang kebangkrutan, utang miliaran bahkan triliunan, kondisi keuangan diprediksi sudah tak memungkinkan untuk disehatkan, siapa bilang sudah tidak ada harapan untuk beroperasi kembali? Semua kemungkinan akan selalu ada, tergantung dari seberapa cerdas pengacara Anda melakukan manajemen restrukturisasi perusahaan. Memanfaatkan sekecil apapun celah untuk membalikkan keadaan serta mampu untuk meyakinkan kreditor agar menerima proposal perdamaian.

 

Kemungkinan itu terbukti tak sekadar utopia, berkaca dari kasus Merpati airlines yang sempat terlilit hutang sekitar Rp10,9 triliun dari ribuan kreditor, akhirnya bisa selamat dari jeratan maut akibat proposal perdamaiannya diterima kreditor dan bahkan akan dioperasikan kembali. Tak hanya itu, masih banyak rekam jejak kasus-kasus dengan jumlah utang besar lainnya yang bisa selamat dari pailit. Tapi, tak sedikit juga perusahaan yang gagal meyakinkan kreditor sehingga berakhir pailit. Apa rahasianya?

 

Pengacara dengan jam terbang tinggi untuk kasus-kasus debt restructuring, Rizky Dwinanto dari firma hukum Adisuryo Dwinanto & Co (ADCO), membagikan tips dalam menangani kasus-kasus dengan persoalan yang kompleks terkait resktrukturisasi perusahaan dalam workshop yang diadakan hukumonline bertajuk ‘memahami karakteristik dan aspek hukum corporate debt restructuring agreement serta teknik penyusunannya, Kamis (18/7).

 

Hal pertama yang penting dilakukan, lanjut Rizky, adalah memastikan layak atau tidaknya restrukturisasi untuk perusahaan itu. Parameter pertama yang bisa digunakan adalah dengan melihat permodalan keuangan perusahaan, baik utang (debt financing) maupun ekuitas (equity financing).

 

Ingat, perusahaan tidak didirikan hanya dari modal bank, kalau 100% menggunakan modal bank biasanya tidak akan diterima oleh bank. Karena bank hanya akan menambah modal ekuitas agar lari perusahaan bisa lebih cepat. Itulah mengapa untuk menaksir sehat atau tidaknya suatu perusahaan penting memastikan balancing antara ekuitas dan utang.

 

“Antara permodalan dari utang maupun ekuitas harus balance dan harus selalu diukur perbandingannya menggunakan debt equity ratio,” jelasnya.

 

Kedua, menilai kewajaran model laporan keuangan, apakah laba rugi, arus kas, neraca dan utang/piutang bisa dikatakan masuk akal? Di sinilah pentingnya kolaborasi yang baik dengan orang yang expert di bidang finance. Setiap ada hal yang mencurigakan dari laporan keuangan, harus langsung dikonfirmasi ke expert finance, karena bisa jadi perusahaan merugi karena terjadinya fraud. Jadi kekeliruan dalam menentukan tindakan perbaikan yang akan diambil bisa diminimalisir.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua