Senin, 05 November 2018
Pertanyaan :
Jerat Hukum Ayah yang Berbuat Asusila Terhadap Menantu
Saya ingin mengajukan pertanyaan, saat ini saya mempunyai perkara tapi saya tidak tahu masuk ke ranah pidana apa. Berikut kronologi ceritanya: pada saat saya dan ibu saya pergi ke luar kota, yang tinggal di rumah hanya ayah saya dan istri saya. Kemudian pada saat itu ayah saya menyatakan perasaan kepada istri saya bahwa dia mencintai istri saya. Sejak saat  itu ayah saya sering memeluk istri saya secara mendadak dan terakhir pada saat istri saya di kamar, ayah saya mendadak datang menghampiri lalu mecium leher istri saya dan berusaha melakukan hubungan seksual, tetapi istri saya sudah menolak dan menjauh tapi tetap seolah-olah dipaksa untuk menghadapi kemauan ayah saya. Saya mau bertanya, bisakah membuat laporan kepolisian terhadap ayah saya sendiri? Kasus ini termasuk dalam pasal apa dan apa hukumannya? Terima kasih.  
Jawaban :
Intisari :
 
 
Perbuatan ayah Anda yang memeluk, mencium leher, serta memaksa istri untuk melakukan hubungan seksual bisa dikategorikan sebagai pencabulan dan juga kekerasan seksual dalam rumah tangga yang dapat dijerat dengan Pasal 289 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Pasal 46 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
 
Atas perbuatan ayah Anda tersebut, Anda dapat melaporkannya pada Kepolisian dan polisi wajib segera memberikan perlindungan sementara pada korban (istri Anda) dalam 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam sejak laporan Anda diterima oleh pihak Kepolisian.
 
Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.
 
 
Ulasan :
 
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
 
Ancaman Pidana Menurut KUHP
Kami asumsikan bahwa perbuatan tidak pantas yang Anda maksud adalah perbuatan cabul.
 
Perbuatan memeluk, mencium leher, serta memaksa untuk melakukan hubungan seksual dapat dijerat dengan Pasal 289 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) yakni:
 
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang melakukan atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul, dihukum karena merusakkan kesopanan dengan hukuman penjara paling lama 9 (Sembilan) tahun.
 
Menurut R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentar-komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal.212), istilah perbuatan cabul dijelaskan sebagai perbuatan yang melanggar rasa kesusilaan, atau perbuatan lain yang keji, dan semuanya dalam lingkungan nafsu berahi kelamin. Misalnya cium-ciuman, meraba-raba anggota kemaluan, meraba-raba buah dada dan sebagainya.
 
Lebih lanjut dijelaskan, selain perbuatan cabul, persetubuhan masuk pula dalam pengertian perbuatan cabul, akan tetapi dalam undang-undang disebutkan tersendiri. Yang dilarang dalam pasal ini bukan saja memaksa orang untuk melakukan perbuatan cabul, tetapi juga memaksa orang untuk membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul.
 
Jadi, tindakan ayah Anda yang memeluk, mencium leher, serta memaksa istri untuk melakukan hubungan seksual bisa dikategorikan sebagai pencabulan.
 
Penjelasan lebih lanjut mengenai perbuatan cabul dapat Anda simak artikel Jerat Hukum Bagi Dosen yang Mencabuli Mahasiswinya.
 
Ancaman Pidana Menurut UU PKDRT
Selain itu, perbuatan ayah Anda (mertua istri)[1] yang memeluk, mencium leher, serta memaksa istri Anda untuk melakukan hubungan seksual dapat dikategorikan sebagai kekerasan dalam rumah tangga yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (“UU PKDRT”), berikut penjelasannya:
 
Kekerasan dalam rumah tangga (“KDRT”) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.[2]
 
Orang yang termasuk dalam lingkup rumah tangga menurut Pasal 2 ayat (1) UU PKDRT adalah:
  1. suami, isteri, dan anak;
  2. orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud pada huruf a karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga; dan/atau
  3. orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.
 
Berarti antara ayah Anda termasuk subjek dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud di atas.
 
Kemudian, Pasal 5 UU PKDRT melarang setiap orang melakukan KDRT terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya, dengan cara:
  1. kekerasan fisik;
  2. kekerasan psikis;
  3. kekerasan seksual; atau
  4. penelantaran rumah tangga.
 
Yang dimaksud dengan “kekerasan seksual” adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan seksual, pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar dan/atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. [3]
 
Kekerasan seksual meliputi:[4]
  1. pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut;
  2. pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.
 
Kekerasan seksual yang dilakukan oleh ayah Anda termasuk jenis kekerasan (pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga) sehingga terhadap perbuatan tersebut sanksinya diatur dalam Pasal 46 UU PKDRT, yang berbunyi:
 
Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak Rp 36 Juta.
 
Jadi menjawab pertanyaan Anda, perbuatan ayah Anda yang memeluk, mencium leher, serta memaksa istri untuk melakukan hubungan seksual bisa dikategorikan sebagai pencabulan dan juga kekerasan seksual dalam rumah tangga yang dapat dijerat dengan Pasal 289 KUHP dan Pasal 46 UU PKDRT.
 
Atas perbuatan ayah Anda tersebut, Anda dapat melaporkannya pada kepolisian dan kepolisian wajib segera memberikan perlindungan sementara pada korban (istri Anda) dalam 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam sejak laporan Anda diterima oleh pihak kepolisian.[5]
 
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar Hukum:
 

[1] Pasal 2 ayat (1) huruf b UU PKDRT
[2] Pasal 1 angka 1 UU PKDRT
[3] Penjelasan Pasal 8 UU PKDRT
[4] Pasal 8 UU PKDRT
[5] Pasal 16 ayat (1) UU PKDRT


Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.


Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
PENJAWAB : Dimas Hutomo, S.H.
MITRA : Bung Pokrol
Dimas Hutomo mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Airlangga pada 2014 dengan mengambil Peminatan Sistem Peradilan.