Kamis, 08 August 2019

Aturan Ahli Waris karena Penggantian Tempat

Aturan Ahli Waris karena Penggantian Tempat

Pertanyaan

Keadaannya seperti ini, A (nenek) mempunyai 3 anak (B, C, dan D) dan suaminya sudah meninggal. B memiliki istri yaitu si E dan melahirkan 2 anak yaitu F dan G, apabila B sudah meninggal duluan, kemudian A (nenek) meninggal dan meninggalkan warisan, bagaimana cara pembagian warisan yang benar menurut hukum perdata? apakah E mendapatkan bagian B yang sudah meninggal?

Ulasan Lengkap

 
Ketentuan hukum waris dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUH Perdata”) menyatakan bahwa keluarga sedarah yang lebih dekat menyingkirkan atau menutup keluarga yang lebih jauh. Keluarga sedarah tersebut disusun dalam kelompok yang dikenal dengan Golongan Ahli Waris yang terdiri dari Golongan I, II, III dan IV, yang diukur menurut jauh dekatnya hubungan darah dengan si pewaris, di mana golongan yang lebih dekat menutup golongan yang lebih jauh, sebagai berikut:
  1. Golongan I: Suami/Isteri yang hidup terlama dan anak/keturunannya.
  2. Golongan II: Orang tua dan saudara kandung pewaris.
  3. Golongan III: Keluarga dalam garis lurus ke atas sesudah orang tua pewaris.
  4. Golongan IV: Paman dan bibi pewaris baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu atau keturunan paman dan bibi sampai derajat keenam dihitung dari Pewaris, dan saudara dari kakek dan nenenk beserta keturunannya sampai derajat keenam dihitung dari pewaris.
 
Berdasarkan kasus yang Anda sampaikan, Pewaris A (Nenek) meninggalkan 3 (tiga) orang Ahli Waris Golongan I yaitu ketiga anaknya B, C, dan D. Namun karena B telah meninggal dunia maka hak warisnya digantikan oleh keturunannya yaitu F dan G sebagai Ahli Waris karena Penggantian Tempat (bij plaatsvervulling).
 
Ahli Waris karena Penggantian Tempat diatur dalam Pasal 841 dan 842 KUH Perdata sebagai berikut:
 
Pasal 841 KUH Perdata
Penggantian memberikan hak kepada orang yang mengganti untuk bertindak sebagai pengganti dalam derajat dan dalam segala hak orang yang digantikannya.
 
Pasal 842 KUH Perdata
Penggantian yang terjadi dalam garis lurus ke bawah yang sah, berlangsung terus tanpa akhir. Penggantian itu diizinkan dalam segala hak, baik bila anak-anak dan orang yang meninggal menjadi ahli waris bersama-sama dengan keturunan-keturunan dan anak yang meninggal lebih dahulu, maupun bila semua keturunan mereka mewaris bersama-sama, seorang dengan yang lain dalam pertalian keluarga yang berbeda-beda derajatnya.
 
Lebih lanjut, J. Satrio dalam bukunya Hukum Waris (hal. 56) menyatakan :
 
Ahli waris karena penggantian tempat adalah ahli waris yang merupakan keturunan/keluarga sedarah dari pewaris, yang muncul sebagai pengganti tempat orang lain, yang seandainya tidak mati lebih dahulu dari pewaris.
 
Berdasarkan ketentuan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa yang berhak menggantikan tempat B sebagai ahli waris adalah keturunan sedarahnya, yaitu kedua anaknya yang bernama F dan G dengan ketentuan mereka secara bersama-sama bertindak dengan derajat yang sama dan hak yang sama dengan ahli waris lainnya, yaitu C dan D. Sedangkan E selaku istri dari B atau menantu dari Pewaris A (Nenek) tidak termasuk sebagai Ahli Waris Pengganti, sebab ia tidak memiliki hubungan darah dengan pewaris.
 
Lain halnya jika A (Nenek) meninggal terlebih dahulu dari pada B, maka sebagian harta warisan akan jatuh ke tangan B. Selanjutnya apabila B meninggal dunia, maka E juga mendapatkan bagian dari harta peninggalan B dengan kedudukannya sebagai Ahli Waris Golongan I dari B (istri).
 
Mengenai hak waris menantu dapat juga Anda baca pada artikel berjudul Apakah Menantu Berhak Mewaris?.
 
Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar Hukum:
 
Referensi:
J.Satrio. Hukum Waris. Penerbit Alumni: Bandung, 1992.

 

Kembali ke Intisari

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua