Dari Rivalitas Menuju Kolaborasi: Menata Ulang Sistem Penegakan Hukum Indonesia
OPINI

Dari Rivalitas Menuju Kolaborasi: Menata Ulang Sistem Penegakan Hukum Indonesia

Masyarakat tidak menginginkan persaingan antarlembaga. Masyarakat menginginkan hukum yang ditegakkan secara adil, konsisten, dan berintegritas. Ketika seluruh aparat penegak hukum mampu bekerja dalam semangat kolaborasi, Indonesia akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk mewujudkan negara hukum yang demokratis, berkeadilan, dan dipercaya seluruh warga negaranya.

•Bacaan 4 Menit
WS
Penulis Opini

Penegakan Hukum Bukan Arena Kompetisi

Hukumonline
Hukumonline

Negara hukum hanya dapat berdiri kokoh apabila seluruh aparat penegak hukum bekerja dalam satu tujuan yaitu menghadirkan keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan bagi masyarakat. Dalam konteks ini, masyarakat tidak berkepentingan pada institusi mana yang paling menonjol dalam mengungkap suatu perkara. Yang diharapkan publik adalah proses hukum yang profesional, transparan, dan bebas dari kepentingan di luar hukum itu sendiri.

Dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik kerap diwarnai pemberitaan mengenai perbedaan pandangan atau dinamika antarpenegak hukum dalam penanganan perkara. Terlepas dari fakta pada masing-masing kasus, situasi tersebut membentuk persepsi bahwa koordinasi antarlembaga masih menghadapi tantangan. Persepsi seperti ini perlu disikapi secara bijak karena dapat memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum secara keseluruhan.

Sudah saatnya perhatian kita bergeser dari narasi rivalitas menuju semangat kolaborasi. Penegakan hukum bukanlah perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling berwenang atau paling berhasil, melainkan ikhtiar bersama untuk menegakkan keadilan.

Sistem Peradilan Pidana Harus Berjalan Sebagai Satu Kesatuan

Dalam sistem peradilan pidana Indonesia, setiap lembaga memiliki fungsi yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Kepolisian menjalankan fungsi penyelidikan dan penyidikan, Kejaksaan menjalankan fungsi penuntutan dan kewenangan lain yang diberikan undang-undang, pengadilan mengadili perkara secara independen, sementara lembaga pemasyarakatan melaksanakan pembinaan terhadap narapidana.

Rangkaian tersebut merupakan satu sistem yang tidak dapat dipisahkan. Apabila salah satu mata rantai tidak berjalan dengan baik, efektivitas penegakan hukum akan terganggu. Karena itu, keberhasilan penegakan hukum tidak boleh diukur dari keberhasilan satu institusi, melainkan dari keberhasilan seluruh sistem dalam memberikan rasa keadilan kepada masyarakat.

Korupsi, kejahatan siber, tindak pidana pencucian uang, perdagangan orang, dan kejahatan transnasional menunjukkan bahwa tantangan hukum semakin kompleks. Penanganannya memerlukan pertukaran informasi, koordinasi yang cepat, serta kepercayaan antarlembaga.

Tantangan yang Masih Dihadapi

Salah satu tantangan terbesar dalam reformasi penegakan hukum adalah ego kelembagaan. Setiap institusi tentu memiliki kewenangan, budaya organisasi, dan mekanisme kerja masing-masing. Namun, apabila perbedaan tersebut berkembang menjadi persaingan yang tidak produktif, maka kepentingan masyarakat dapat terabaikan.

penegakan hukumpenegak hukum
Wicipto Setiadi

Guru Besar Ilmu Hukum

Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info