Oleh karena itu, ketika seseorang mendapatkan jawaban dari AI, kemungkinan besar itu hanya representasi dari data yang pernah dibaca oleh mesin, bukan hasil dari penalaran hukum atau analisis akademik yang sesungguhnya.
Sebagai seorang Engineer, ia juga menjelaskan teknologi ini dilatih dari miliaran sumber terbuka, seperti buku, artikel, dan dokumen di internet. Dari data tersebut, mesin kemudian membuat model yang dapat menebak kata berikutnya dalam suatu kalimat. Inilah yang menjadi dasar kerja AI dalam menyusun kalimat dan memberikan jawaban.
“Teknologi ini bisa tahu apa kemungkinan kata selanjutnya karena dia mengerti pola, tambahnya.
Namun, ia menegaskan bahwa AI seperti ini paling tepat digunakan untuk language problems, yaitu persoalan yang berkaitan dengan bahasa. Contohnya adalah merangkum dokumen panjang, menyusun ulang informasi menjadi pointer, atau mengidentifikasi bagian penting dari sekian banyak slide presentasi. Di luar itu, khususnya dalam konteks pengambilan keputusan hukum, AI harus dijadikan alat bantu, bukan sumber utama.
Lebih lanjut, baginya, perkembangan teknologi AI dalam beberapa tahun terakhir sudah masuk pada fase yang sangat menentukan. Ia menyebut bahwa perubahan ini sudah setara dengan revolusi industri dan telah memasuki masa transisi yang akan mengubah banyak hal, mulai dari cara bekerja, belajar, sampai kebijakan bisnis.
















