Puluhan korban kerja paksa di Tangerang mendesak pemerintahmembantuuntuk memulihkan hak-hak mereka. Pasalnya, korban merasa selama ini diperlakukan secara tidak manusiawi ketika bekerja di perusahaan yang memproduksi wajan itu.
Salah seorangkorban asal Cianjur, Jawa Barat, Bagas,menuturkanpara pekerja kerap mendapat tindak kekerasan dari majikan. Pria yang bekerja menjaga api peleburan logam untuk membuat wajan itu mengaku pernah dipukul oleh mandor dan majikan.
Begitu pula dengan fasilitas yang diberikan majikan untuk kebutuhan hidup para pekerja, sangat tidak layak. Misalnya, ruang tidur sangat sempit, kotor dan pengap karena tak dilengkapi ventilasi udara. Untuk keperluan mandi, majikan hanya menyediakan sebungkus sabun colek yang dipakai untuk tiga pekerja. Bahkan, sikat dan pasta gigi tidak disiapkan sehingga ia menggunakan sikat gigi bekas yang digunakan secara bergilir oleh rekan-rekannya. Begitu pula dengan pakaian, Bagas hanya punya pakaian yang melekat di badan untuk dipakai bekerja dan tidur.
Tindakan yang tidak berprikemanusiaan itu juga dirasakan Bagas dan puluhan rekannya terkait jam kerja. Pasalnya, mereka wajib bekerja tanpa upah dari jam setengah enam pagi sampai sepuluh malam tiap hari dan tak boleh istirahat. Ketika makan, majikan hanya memberi nasi dengan lauk tahu dan tempe. Merasa diperlakukan seperti hewan, Bagas berharap agar pemerintah memulihkan hak-hak selama bekerja dan kondisi mereka seperti semula. "Tiap hari bekerja, saya diperlakukan seperti hewan," keluhnya dalam jumpa pers di kantor KontraS Jakarta, Rabu (8/5).
Bagas menyebut sampai saat ini pihak berwenang belum melakukan upaya untuk memenuhi harapannya tersebut. Hanya Bupati Cianjur yang datang ke kampung mereka untuk memberi sumbangan uang Rp1 juta untuk 22 korban kerja paksa asal Cianjur. "Harapan saya, hak kami diganti dan tersangka dihukum maksimal. Kesehatan kami juga tolong dipulihkan,"ucapnya.
Pada saat yang sama, korban kerja paksa lainnya, Nuryana, mengatakan dalam sehari seorang pekerja diwajibkan membuat paling sedikit 200 wajan. Jika target itu tak terpenuhi maka mandor dan majikan akan memukuli pekerja yang bersangkutan. Merasa tidak nyaman dengan perlakuan yang mereka hadapi di lokasi kerja, Nuryana mengatakan para pekerja sempat protes.
Alih-alih aspirasi mereka didengar, sang majikan dan mandor malah mengancam akan membunuh mereka. Bahkan ada oknum Brimob yang menjadi beking perusahaan mengancam pekerja dengan melepaskan tembakan ke tanah di lokasi para pekerja sedang bekerja. Nuryana mengaku sangat trauma atas peristiwa yang menimpanya selama enam bulan bekerja di pabrik wajan itu.
















